Cari Blog Ini

Selasa, 19 Februari 2013

Siapakah Aku? SuatuTinjauan Filsafat



I. PENDAHULUAN
            Seseorang mungkin mendapat kesulitan dalam mengenali dirinya, sebanyak kesulitan yang ia dapat mengenali orang lain. Banyak soal-soal yang rumit yang timbul mengenai diri kita. Siapakah Aku ini? Siapakah Anda? Apakah kehidupan masuk akal? Apa arti dari eksitensi? Kita mungkin mencoba untuk menghindari atau bahkan menolak pertanyaan-pertanyaan penting seperti ini, tetapi pertanyaan itu selalu kembali dan memaksa kita. Terus kita katakan, "Aku berpikir", ”Aku merasa”, "Aku melakukan”, "Aku harus”, dan sebagainya. Hanya apa yang kita maksud dengan "aku," "saya," "Anda"?
Kita mencoba menjawabnya, kadang-kadang karena ingin tahu, tetapi kadang-kadang untuk sebab-sebab yang praktis. Istilah aku (self) atau individualitas (selfhood) menunjukkan ”subjek” atau sesuatu yang tetap ada sepanjang pengalaman yang berubah-ubah untuk kehidupan seseorang. Walaupun kita tidak dapat memberi definisi aku (self) secara sempurna, namun kalimat itu merupakan konsep yang penting. Ada filosof yang mengatakan bahwa ide ”aku” itu tidak ada artinya, namun beberapa filosof lain tetap mengatakan bahwa ”aku” merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Aku (self) adalah sesuatu yang melakukan persepsi, memikir, merasa, menghendaki, mimpi dan menentukan.  
 
II. PEMBAHASAN
Siapakah Aku? Siapakah Anda? Apakah kehidupan masuk akal? Apa arti dari eksitensi? Kita mungkin mencoba untuk menghindari atau bahkan menolak pertanyaan-pertanyaan seperti ini, tetapi pertanyaan itu selalu kembali dan memaksa kita. Terus kita katakan, "Aku berpikir”, "Aku merasa”, "Aku melakukan”, "Aku harus”, dan sebagainya. Hanya apa yang kita maksud dengan "Aku", "Saya", "Anda"? Seorang psikolog dengan pengalaman mengajar yang lama, konseling, dan penelitian, mengatakan:
Berikut masalah situasi yang dikomplain seseorang seperti refleksi yang dipelajari, istri, pekerja, atau pengendaliannya atau sikapnya yang aneh, perasaan takut menjadi pusat pertanyaan seseorang. Ini merupakan pertanyaan yang mendasar pada setiap orang: ”Siapa aku sesungguhnya? Bagaimana saya boleh mengenal disi saya sebenarnya melalui sikap saya yang nyata? Bagaimana saya boleh menjadi aku sendiri?

Dalam membahas "The Riddle of Man," (Teka-teka manusia), Emil Brunner berkata bahwa pertanyaan  aku tidak hanya salah satu dari  masalah.
Masalah lain mungkin kita lihat lebih besar atau lebih penting, tapi tetap merupakan masalah.  Semua masalah berfokus pada satu pertanyaan. Apa  pertanyaan-yang ada di balik setiap pertanyaan?  Siapa  yang memandang dunia tak terhingga? Siapa yang tersiksa oleh seluruh masalah hidup-baik dalam eksistensi manusia atau yang lain?

Isu-isu besar filsafat, psikologi, agama, dan kehidupan sehari-hari ada pada sekitar pertanyaan tentang keberadaan dan sifat (watak)  aku.  Dari satu sudut pandang bisa dikatakan bahwa kita adalah objek antara objek-objek lain yang terletak pada titik dalam ruang dan waktu tertentu dengan adanya eksistensi. Dari sudut pandang lain, manusia tampaknya berada di atas semua obyek pengalaman dan data kesadaran  tertentu dan bahkan di atas ruang dan waktu

A. Penyangkalan  Aku”
Sejak abad ketujuh belas ketika manusia mengalihkan perhatian mereka terhadap kehidupan batin manusia, ada sejumlah besar penyangkalan kesadaran akan keberadaan aku. Perlawana terhadap Leibnitz dan yang lainnya, yang menganggap aku sebagai sesuatu yang aktif dan “digerakkan” (self-propelled), umpamanya John Locke (1632-1704) mengatakan bahwa jiwa atau akal merupakan tablet yang kosong. Terjadinya tindakan adalah karena pengaruh dunia luar melalui perasaan. David Hume (1711-1776) mendukung pengingkaran Jhon Locke lebih lanjut. Ia tak dapat menemukan substansi yang tetap tak berubah. Introspeksi muncul hanya untuk mengungkapkan sekilas sensasi yang datang dan pergi, atau apa yang kadang-kadang disebut sebagai "aku empiris." Beberapa  filsuf berkata, kita terus berpikir menjadi sadar aku dan kesadaran kita langsung menjadi identitas pribadi masih memerlukan bukti lebih lanjut dalam bentuk demonstrasi.  Hume menulis “tentang akuku”, jika aku masuk ke dalam apa yang dinamakan “akuku”. Aku tak pernah dapat menangkap ‘akuku’ tanpa sesuatu persepsi dan tak pernah dapat menyimpan sesuatu kecuali persepsi. Tentu saja persepsi-persepsi tersebut berlalu dan bersifat sementara.
Mengikuti penyangkalan aku Hume, setidaknya dalam arti di mana istilahnya telah digunakan oleh banyak filsuf di masa lalu. Sebagai contoh, penulis buku teks yang cukup banyak digunakan dalam psikologi berbicara tentang "Manusia mesin" dan menegaskan bahwa "konsep aku tidak penting dalam analisis perilaku.  Peristiwa   mental atau psikis menegaskan kurangnya dimensi ilmu fisika, sebagai alasan kita untuk menolaknya.
Ada kecenderungan untuk bersikeras bahwa fisik, eksternal, dan yang kelihatan lebih mendasar dari apa yang tidak kelihatan. Hipotesis "organisme kosong" atau "hollownun," bersama dengan keyakinan bahwa manusia termasuk pada hewan tingkat tinggi secara alami, telah menguatkan pandangan bahwa manusia dapat dipelajari melalui spesies yang lebih rendah. Jika manusia hanya binatang, maka studi sederhana tentang tikus putih dapat mengungkapkan sifat alami manusia.
Dalam  Jurnal Inggris, FH Heinemann pernah berkata, "Manusia tanpa pikiran”. Hal ini tampaknya merupakan penemuan terbaru abad ini, yang dibuat secara independen di Amerika, dan di Rusia. "Dia mengacu pada titik pandang tersebut dan gerakan perlawanan Gilbert Ryle's di Inggris atas aku atau pikiran sebagai hantu dalam mesin" pada behaviorisme metafisik di Amerika Serikat, dan materialisme dialektika di Rusia. Untuk pendekatan ini, Heinemann berkata, "tidak diperbolehkan ada pikiran atau perasaan pribadi."
Dalam hal yang sama beberapa psikolog mengatakan bahwa mereka tidak suka menggunakan konsep dan istilah seperti aku, akal (mind) dan kesadaran aku (self consciousness), karena mereka tidak suka terhela oleh “hantu” (spooks). Mereka ingin bersikap objektif dan empiris, para psikolog tersebut, begitu juga para filosof yang setuju dengan pandangan mereka, menghilangkan segala isyarat terhadap aku atau mengatakan bahwa mereka dapat menghadapi aku tersebut hanya jika aku itu menunjukkan diri secara objektif dalam perilaku. Mereka itu sebagai gantinya, membicarakan tentang dorongan (stimulus), respon (jawaban) dan behavioral biografi.  Dengan begitu maka metode yang dipakai untuk mempelajari benda-benda inorganik, binatang dan mesin dapat dipakai untuk mempelajari manusia. Metode ilmiah dan postulat telah menunjukkan faidahnya dalam bidang fenomena yang objektif. Dalam mencapai sukses di bidangnya sehingga ilmu alam (natural science), ilmu perilaku (behavioral) menghilangkan persoalan arti, nilai dan aku.

B. Komentar Kritis
Apakah penolakan aku dan pikiran saat ini sebagai sesuatu yang melampaui sebagian proses fisik karena keinginan beberapa ilmuwan untuk memperluas metode objektif ilmu pengetahuan yang menyertakan semua realitas? Jika keinginan ini dipenuhi, semua pertanyaan bisa dijawab, dunia dan manusia direduksi menjadi serangkaian konstruksi logis dengan mudah dapat dimanipulasi. Apakah sebagian penolakan aku karena klaim bahwa apa yang tidak bisa diamati atau atau diukur tidak ada? Apakah karena sebagian interpretasi manusia hanya sebagai produk dari lingkungannya? Kita setuju bahwa kita tidak mau berurusan dengan "hantu," tetapi ada unsur pengalaman manusia, yang tidak harus diabaikan hanya karena metode. Hal yang tidak bisa dijelaskan dalam bahasa perilaku eksternal mungkin masih menjadi bagian paling penting dari kehidupan manusia. Tidak ada keberatan terhadap metode ini, jika diakui dan dipahami untuk apa mereka, dan jika hasilnya tidak diperlakukan secara tidak sadar sebagai penjelasan lengkap dan final. Tetapi ketika hasilnya diperlakukan sebagai penjelasan lengkap, hidup manusia termasuk dalam kerangka acuan dasar yang berarti.
 Kita  melihat  pendapat dari dua sarjana, seorang filsuf dan psikolog, yang memberikan reaksi penolakan terhadap pentingnya aku
Kami telah mendefinisikan kehidupan manusia dalam arti yang luas, tetapi tidak memberikan makna. Secara psikologi merupakan sifat fisik, tetapi tidak mempunyai makna. Secara biologi, merupakan produk  alam yang merupakan siklus tetapi tidak mempunyai makna. Secara sosiologi  bahwa manusia yang saling membantu, yang merupakan tujuan secara biologi, yang memberikan pola perilaku pada kita, tetapi tidak mempunyai makna.   Semua ini merupakan hasil prestasi, alasan ilmiah kita, diterima sebagai data filsafat.

Gordon W. Allport mengatakan:
Sampai sekarang "ilmu-ilmu perilaku," termasuk psikologi, belum memberikan gambaran bahwa manusia mampu menciptakan atau hidup dalam  demokrasi. Sains sebagian besar telah meniru model fisika bola bilyar, pada ini sudah ketinggalan zaman. Hal  telah dimasukkan ke dalam psikologi "organisme kosong," yang didorong oleh gerakan dan dibentuk oleh lingkungan. Apakah itu kecil dan parsial, yang eksternal dan mekanik, apa yang dini, sekeliling dan oportunis-telah memberikan perhatian utama  dalam pengembangan  secara psikologi. Tetapi teori demokrasi membutuhkan proses pengukuran rasionalitas manusia, porsi kebebasan, kata hati, cita-cita, dan nilai yang khas.

Dia melanjutkan:
Manusia bercerita, tertawa, mengembangkan budaya, berdoa, memiliki ramalan kematian, belajar teologi, dan berusaha untuk memperbaiki kepribadian sendiri. Ketidakterbatasan  dari pola yang dihasilkan ini adalah jelas tidak ditemukan dalam makhluk naluri. Untuk alasan ini kita harus berhati-hati ketika kita mengekstrapolasi asumsi, metode, dan konsep ilmu pengetahuan alam dan biologi untuk materi yang kita pelajari. Secara khusus kita harus menolak ketidakpedulian ilmu lain untuk masalah individualitas.

C. SifatAku”
SEJAK zaman Yunani awal telah ada kecenderungan filsuf memikirkan aku dan pikiran sebagai sinonim dan "menyamakan aku sebagai subjek pikiran, dan aku sebagai objek baik dengan tubuh atau kesatuan badan-pikiran."Pikiran dapat diidentifikasi dengan" bentuk "atau prinsip organisasi. Identifikasi  aku dan pikiran terbuka untuk pertanyaan. Aku manusia tampaknya terdiri dari tiga unsur. Ada pemikiran, penalaran, atau sisi mengetahui, disebut kognitif, ada unsur perasaan atau emosional, biasanya diistilahkan sebagai afektif, dan ada keinginan, berjuang, kemauan, atau sisi aktif, yang disebut konatif. Perbedaan tradisional tampaknya didasarkan pada aspek-aspek fundamental atau perbedaan dalam pengalaman manusia.

D.  “Aku” Sebagai Pusat Identitas Pribadi
Istilah aku (self) atau individualitas (selfhood) menunjukkan “subjek” atau sesuatu yang tetap ada sepanjang pengalaman yang berubah-ubah dari kehidupan seseorang. Aku (self)  adalah sesuatu yang melakukan persepsi, konsepsi, memikir, merasa, menghendaki, mimpi dan menentukan. Jika aku itu merupakan substansi atau benda (banyak filosof modern menolak pandangan ini) maka akal itu adalah substansi yang teristimewa sekali. Suatu substansi tidak harus bersifat “material”. Jika kita mengatakan bahwa aku itu bukan substansi, kita dapat menggambarkannya sebagai pusat dari identitas pribadi.
Terdapat banyak bukti tentang adanya suatu unsur  inti yang dapat diberi nama: self, ego, agent, mind, knower, soul, spirit atau person. Kata-kata seperti pengalaman langsung (immediate experience) dan kesadaran  (content of consiousness) mengandung arti “adanya sesuatu yang mempunyai pengalaman, sesuatu yang memberikan kesatuan (unity”. Kita berkata: aku  dalam menceritakan pengalaman-pengalaman yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, lima tahun yang lalu, kemarin atau sekarang, aku adalah sesuatu “kesatuan”, subjek yang mempunyai pengalaman, yang tak dapat dianggap hanya sebagai bagian dari aku, atau sebagai unsur-unsur yang khusus dan berubah dari pengalaman saya. Kalau istilah mind dan self  (akal dan aku) tak dapat dianggap benda yang sama, maka self (aku) atau person adalah yang memiliki pengalaman-pengalaman tersebut yang kita namakan pengalaman mental.
            Realitas yang diketahui oleh seseorang secara langsung adalah aku-nya (self-ego). “Aku” diketahui secara lebih langsung dan lebih meresap daripada dunia di luar diri seseorang. Dunia yang objektif yang dapat dialami, diukur dan dimanipulasikan selalu dipandang dari segi kepentingan aku (self) atau orang yang mengerti. Aku  mencakup kualitas keistimewaan serta kelangsungan dalam perubahan, yakni kelangsungan yang memungkinkan seseorang berkata Aku, kesadaran pribadi (self-consciousness) adalah kesadaran aku terhadap dirinya. Manusia bukannya hanya sadar terhadap dirinya sebagai aku, akan tetapi ia juga sadar kepada fakta bahwa ia sadar.

E. “Aku” Sebagai Integrator  Pengalaman-Pengalaman
Semua pengalaman yang menunjukkan adanya aku (self) atau subjek yang bebas dan tidak tenggelam dalam proses atau kejadian-kejadian yang melingkupinya. Oleh karena kekuatannya untuk mengintegrasikan sesuatu atau mengadakan perpaduan, maka aku mengatasi (transcedends) proses di mana ia terlibat. Manusia mempunyai pengalaman tentang dunia sebagai “suatu dunia yang penuh dengan objek yang terbuka untuk pengamatan”. Manusia mengalami dirinya sendiri sebagai “kesadaran dalam (inner awareness) bahwa ia hidup”. Orang yang mengingkari adanya aku (selfhood) sebagai sesuatu yang terpisah dari tingkah laku yang objektif dan dapat dilihat, ia akan tetap mengatakan bahwa ide-idenya adalah benar. Tetapi bukankah pengingkaran terhadap aku malahan menjadi pengakuan kepadanya? Jika yang dinamakan kebenaran dan kebohongan ada, niscaya berpikir tidak hanya berarti tentetan perasaan yang datang bertubi-tubi tetapi tidak mengenai pusat identitas yang memberikan sifat kesatuan kepadanya. Kebenaran dan kebohongan, pengenalan atau pengetahuan harus disadari dengan adanya aku atau sesuatu yang memikir. Bagaimana kita dapat membandingkan benda-benda tanpa memikirkan pembanding yang berada di luar benda-benda yang dibandingkan? Kontinuitas pikiran yang memungkinkan manusia mengadakan argumen yang panjang atau menulis buku menunjukkan adanya aku yang melangsungkan atau subjek yang mengetahui.
Psikolog, Rollo May berkata: Aku adalah fungsi yang mengorganisir yang ada dalam seseorang. Aku ada sebelum kita memperoleh sains dan bukan objek sains tersebut.  J B. Pratt mengatakan bahwa kita harus menerima " realitas aku" atau menuju bentuk naturalisme ekstrim dan “membunuh pikiran”. Karl Heim, menunjukkan bahwa kita dapat melihat realitas hanya dari sudut pandang pusat aku. Hal yang aneh mengenai ego, yang menjadikan alam sebagai objek persepsi dan kehendaknya adalah walaupun ego tersebut paling dekat dan sangat terkenal dengan kita, walaupun kita masing-masing sadar akan adanya, namun adalah mustahil bagi kita untuk menggambarkan secara objektif sebagaimana kita melukiskan sebuah kristal atau bunga atau rumah.

F. “Aku” Sebagai Hal yang Khusus
Di samping sifat permanence dan transcendence,  aku mempunyai sifat khusus (private), yakni sifat yang tidak melekat kepada badan.
Kita mempunyai pengetahuan yang langsung tentang aku kita yang bersifat pribadi yang tidak dapat dilukisksan secara sempurna dengan istilah-istilah yang objektif. Sehubungan dengan dunia objektif saya berbicara tentang tubuh saya, lingkungan saya, pengalaman saya.  Aku tidak bertukar "di sini" atau "di sana" di mana saya menemukan aku dengan orang lain. Aku dapat memberikan sebuah mataku atau ginjalku atau sebagaian dari darahku kepada orang lain, aku tak dapat mengganti isi kesadaran orang lain dengan kesadaranku. Kita dapat mengetahui secara sempurna apa yang dipikirkan oleh orang lain.  Aku tak dapat memasuki alam orang lain, walaupun dengan perantaraan bentuk komunikasi yang bermacam-macam kita dengan merasa simpati, mengerti atau menunjukkan perasaan mendalam.
Meskipun ada banyak faktor variabel tentang saya, ada faktor konstan di mana  saya tidak bisa melepaskan aku. Bahkan saat aku memikirkan dissolusi yang dikenal sebagai kematian, dalam arti yang sangat unik kematian saya yang akan datang.
Selain itu, privasi dari aku yang berarti hanya aku bisa tahu aku. Aku ini tidak dapat dibuktikan secara objektif seperti objek dalam ruang dan waktu, juga tidak ditemukan di antara objek kesadaran. "Aku" tidak dapat ditemukan di antara persepsi rasa, karena tidak ada kemungkinan aku menjadi objek akal. Hal ini sifat pribadi dari aku berarti bahwa aku memiliki kualitas yang sulit dijelaskan. Beberapa ilmuwan mengklaim bahwa mereka dapat menangani internal dan subjektif hanya sebagai memanifestasikan aku-nya dalam perilaku objektif dan bahwa segala sesuatu di luar ini mungkin diabaikan. Tujuan perilaku tidak mengungkapkan banyak hal, tetapi tidak menghiraukan sifat batin dan pribadi aku.

G. ”Aku” Sebagai yang Mengatasi (Transcendor)  Waktu
Hubungan aku dengan proses waktu adalah salah satu dari problema yang sangat mendalam dari kehidupan manusia. Manusia adalah suatu makluk yang sangat terbatas,  dengan kehidupan yang terbatas dengan waktu, tetapi ia mengatasi (transcedends) dan berada di atas rangkaian  waktu. Manusia mempunyai kemampuan untuk membicarakan masa yang lalu dan masa mendatang. Manusia juga memiliki daya melihat ke depan, kemampuan untuk merencanakan, menebak yang belum terjadi dengan sedikit atau banyak kepastian, mengadakan rencana dan sampai batas tertentu membentuk hari esok. Walaupun begitu, aku-ku tak dapat dimengerti, terikat dengan waktu sekarang walaupun dalam ingatanku aku dapat bergerak ke masa lau dan dalam imajinasi aku dapat melompat ke masa depan. Aku terikat dan tak terpisahkan dari ”sekarang” yang berbeda dalam kualitasnya dari rentetan titik-titik. Aku-ku menjadi pusat waktu, dan hari kemarin dan hari esok dapat dilihat oleh aku sekarang.

H. “Aku” yang Unik
Sampai sekarang definisi  aku sukar untuk dilukiskan. Istilah seperti kehidupan (life), aku (self) dan Tuhan (God) sukar untuk dijelaksan: usaha untuk menjelaskan arti istilah-istilah  tersebut nampaknya akan mengubah watak (nature)-nya dan membatasi implikasinya. Walaupun kita tidak dapat memberi definisi aku (self) secara sempurna, namun kalimat itu merupakan konsep yang penting. Beberapa filosof lain mengatakan bahwa “aku” merupakan faktor yang penting dalam kehidupan. Kita tidak dapat menghilangkan kesadaran (awareness), kesadaran pribadi (self-consciousness), dan jiwa (mind) dari interpretasi kita tentang urusan-urusan manusia tanpa mengingkari hal besar yang sentral (pokok) dalam pengalaman manusia. menghilangkan “aku”  adalah untuk menghilangkan pengetahuan dan untuk menolak ilmu pengetahuan itu. Logika adalah metode memeriksa aku. Matematika adalah memeriksa relasiaku” dengan yang lain. Psikologi  menggambarkan sensasi aku atau perilaku, dan sejenisnya. Sejarah manusia sendiri merupakan cerita tentang makluk-makluk yang sadar dan berakal, yakni aku (self) yang bergerak dalam waktu, mengamati, memikir dan membaca bermacam-macam maksud. Aku lebih dari materi yang dianalisis dan digambarkan.
Jika dua hal yang sama atau identik, satu bisa diganti dengan yang lain tanpa kehilangan atau kebingungan. Ketika kita membandingkan tubuh, di satu sisi, dan aku di sisi lain, substitusi ini tidak dapat dibuat. Apakah kita menganggap aku sebagai substansi, prinsip organisasi, atau sebagai kesatuan pribadi, tampaknya ada perbedaan mendasar antara materi dan aku, dan mereka berfungsi pada tingkat yang berbeda. Misalnya, materi dan badan berada dalam ruang. Mereka dapat dibagi dan diukur. Aku dan berpikir, termasuk pengetahuan, tidak berada dalam ruang dan tidak dapat dibagi dan diukur. Badan jatuh, karena dipengaruhi oleh gravitasi sedangkan pengetahuan tidak jatuh.

I. “Aku” dalam Pandangan Buber dan Macmuray
Kita memilih dua pandangan baru tentang penjelasan singkat tentang  “aku”. Yang pertama adalah sarjana Yahudi, Martin Buber, yang memberikan perhatian utama pada eksistensialis. Yang kedua adalah bahwa seorang sarjana Inggris, John Macmurray.

Pendekatan Dialogis Martin Buber
Dalam karangannya Martin Buber (1978-1865) memberikan pendapatnya tentang aku dan hubungan antara orang dan orang lain serta antara orang dan barang, yang dinamakan dengan pendekatan dialogis (dialogic approach).  Menurut Buber, pengetahuan itu ada dua macam yang sangat berbeda. Sebagai akibatnya, terdapatlah dua sikap yang berbeda terhadap pengalaman, dua pendekatan terhadap aku dan dua macam hubungan terhadap lingkungan; dua hubungan tersebut tidak dapat ditukar satu sama lain.
Pertama, aku mungkin mengetahui aku lain dengan cara saling mengenal. Di sini hubungan pokok adalah antara subjek dengan subjek, atau aku dengan aku. Contoh pertama tentang ini adalah hubungan bayi dengan ibunya. Dari kesadaran yang kurang terang ini, timbullah perbedaan antara aku dan engkau, antara aku dan aku lainnya. Aku mengenal seorang lain sebagai Thou. Ini adalah hubungan I dan Thou. Aku mengenal seorang lain (aku lain) dalam kedudukannya dan aku menghendaki suatu tanggapan, ini adalah hubungan timbal-balik di mana persatuan itu mungkin. Hubungan I – Thou, atau hubungan orang dengan orang mengandung pertemuan yang murni, yang berarti bahwa tiap pihak mencurahkan isi wujudnya kepada pihak lain. Buber berkata “semua kehidupan yang nyata adalah pertemuan”
Kedua, aku mengetahui sesuatu sebagai it (itu) sebagai suatu objek di luar. Objek tersebut adalah salah satu dari beberapa objek yang berada di ruang atau waktu, dapat diukur dan tunduk kepada peraturan sebab-akibat (causal laws). Hubungan I-It adalah hubungan antara seseorang dengan benda atau subjek dengan objek. Maksud dari pengetahuan adalah hubungan I – It biasanya adalah untuk mengontrol hal yang tidak diketahui. Yang mengetahui terpisah dari yang diketahui dan hubungan itu pokoknya adalah hubungan manipulasi. Hubungan semacam itu dapat diberikan contoh oleh sains. Dalam sains, aku melakukan kontrol  tetapi terpisah dari eksperimen. Karena terpisahnya subjek, dan karena konsentrasi terhadap objek, maka dalam sains terdapat kecenderungan untuk mengingkari aku.
Sikap I – Thou dan I – It keduanya penting  bagi watak manusia. Kata I – Thou hanya dapat dipakai dalam segala wujud orang yang mengatakan. Kata I – It adalah sebaliknya. Jika aku menghadapi seseorang sebagai Thou, dan mengadakan dialog I – Thou dengannya, orang itu bukannya benda dan tidak terdiri dari benda-benda. Saya juga dapat bertemu dengan  seseorang dan menganggapnya sebagai aku dan menjadikan aku tersebut sebagai objek atau It untuk keperluan saya. Manusia dapat diperlakukan sebagai benda, dikondisikan, dimanipulasikan dan dicuci-otakkan (brainwash). Manusia tak dapat hidup tanpa It, maka dunia It yang selalu membesar akan mengalahkannya, dan mencabut realitas I-nya darinya.
Kita dilahirkan sebagai pribadi-pribadi yang berlainan satu dengan yang lainnya. Kita menjadi aku yang benar-benar jika kita mempunyai hubungan yang erat dengan orang-orang lain. Melewati Thou seseorang menjadi I. Aku itu bersifat sosial dan interpersonal, dan seseorang yang real adalah orang-orang yang hidup antara orang dan orang. Hubungan I – Thou mempunyai ciri-ciri timbal balik, langsung dan kesungguhan (intensity). Dalam hubungan semacam itulah suatu dialog atau pengetahuan dapat terlaksana. Dialog tersebut mungkin dengan perkataan atau secara diam-diam. Bahkan dialog tersebut terjadi dengan sekadar pandangan yang spontan dan tanpa gaya akan tetapi mengandung pemahaman dan perhatian yang timbal balik.
Buber protes terhadap “pembendaan” serta kecederungan depersonalisasi, karena kedua hal tersebut akan berakibat mengingkari aku dan menghalagi ekspresinya. Suatu jemaat yang sejati akan timbul dari I – Thou.  Beberapa orang hanya dapat hidup dalam hubungan yang timbal  balik jika mereka dapat berkata Thou seseorang kepada yang lain yang baik itu adalah persatuan jiwa dengan kehidupan. Suatu jemaat yang organik itu didasarkan atas kerjasama dan pengakuan pribadi sebagai pribadi (person) serta pengakuan aku sebagai subjek.

Pandangan John Macmurray tentang  AKU”
John Macmurray mengatakan bahwa  penafsiran tradisional Aku sebagai agen tidak memadai dan menyesatkan. Pendekatan tradisional mengacu pada  Descartes, yang menekankan aku pada saat refleksi. Saya  berpikir; karena itu aku ada "menjadi aku" murni subjek dan dunia adalah objek.  Aku berpikir "menjadi pusat acuan”. Penekanan pada aku dalam kegiatan reflektif berarti bahwa aku berdiri di atas dunia. Berdiri dalam kontemplasi, terlepas dari partisipasi dalam peristiwa-peristiwa dunia. Pendekatan ini mengandaikan keutamaan teoritis dan mengarah ke sikap yang terpengaruh dualisme atau bifurkasi alam.
Sejak zaman Yunani, pandangan pada pengetahuan cenderung telah diorganisasikan. Penafsiran  tradisional aku telah jauh terdistorsi. Dalam tindakan kita berseberangan dengan  objek. Kita tidak berpartisipasi secara aktif di dalamnya atau melakukan sesuatu untuk itu. Macmurray menegaskan bahwa perasaan yang menyentuh sebelum penglihatan. Dalam arti perasaan kita memiliki kontak dengan obyek atau yang lain dan memiliki sifat kesadaran alami. Pandangan bersifat pasif, sedangkan persepsi bersifat aktif dan berhubungan dengan sifat objek atau yang lain. Terlepas dari persepsi sebelumnya, pandangan bisa memberikan sedikit makna atau pemahaman bagi kita.
Filsafat modern telah melewati dua tahap yang berbeda dan sekarang muncul fase yang ketiga. Tahap pertama sesuai dengan masa penciptaan ilmu fisika dari Descartes ke Hume. Periode  ini didominasi oleh konsep, menurut Macmurray, adalah "substansi", bentuk dan metode yang matematis. Tahap  kedua penekanannya adalah pada ilmu biologi. Periode ini mulai dari Kant hingga saat ini. Perhatian utama adalah pada hidup dan konsep kunci adalah organisme. Penekanan pada aku sebagai substansi dalam fase kedua bahwa ide aku sebagai organisme.
Tahap  yang baru dari filsafat modern "bentuk pribadi" adalah masalah kontemporer. Mekanisasi  dan bentuk-bentuk pemikiran organik, gagal mempertimbangkan sifat dari aku, penekanannya pada "aku sebagai agen" dan individu yang ada aktif.  “Saya berpikir maka aku ada”. Macmurray menggantikan orang yang aktif "I do ". Semua pengetahuan bermakna karena tindakan. I do sebuah pengandaian semua pengalaman manusia, termasuk "Aku tahu bahwa aku" sebagai aspek aku. Kita harus mulai mempraktekkan dan melakukan pemikiran kita dari sudut pandang tindakan. Aku adalah yang melakukan, bukan hanya berpikir.
Kesatuan aku bukan merupakan kesatuan material saja, atau kesatuan organik,  yang merupakan kesatuan pribadi. Materi tidak termasuk organik, organik tidak termasuk pribadi. Konsep seseorang adalah termasuk konsep dari suatu organisme, konsep organisme termasuk konsep tubuh secara materi.. Jawaban skeptisisme Hume bahwa bentuk material adalah konstruksi organik. Instrument  pemikiran tegas menolak dua yang lainnya, karena kita tidak perlu memahami pengalaman manusia dengan analogi pengetahuan organisme atau substansi, tetapi langsung dalam istilah karakter  pribadi yang unik. "
Macmurray percaya bahwa di masa lalu kita cenderung mengajukan pertanyaan yang salah dalam mempertimbangkan sifat aku. Akibatnya bahkan kebenaran dari analisis logis sangat kecil konsekuensinya. Pendekatan baru ini menekankan keutuhan pengalaman secara keseluruhan, bukan hanya kesatuan pengetahuan. 

J. Makna Eksistensi Manusia

Saat ini mungkin mustahil untuk membuktikan kebermaknaan dan keberartian hidup, sejumlah petanyaan yang dikemukakan oleh manusia dalam pencarian mereka dalam arti dan makna. Mereka ingin mendapatkan dalam arah kesadaran. Kehidupan  yang berarti bagi  manusia akan bergantung pada akhir analisis, tempat berlangsung kehidupan manusia di alam semesta secara keseluruhan, atau atas pandangan kita terhadap dunia. Banyak penulis telah menyerukan perhatian tentang hilangnya perasaan makna dalam hidup dan kerusakan yang dihasilkan masyarakat modern.
Peradaban modern pada abad pertengahan: kemajuan teknis tenaga kerja, otomatisasi, proses kehidupan sehari-hari, jumlah tindakan perusakan, merupakan akibat dehumanisasi. Munculnya mesin dan jatuhnya peradaban manusia adalah dua bagian proses yang sama. Manusia modern adalah korban dari sejumlah nilai-nilai instrumen yang lain. Kekuasaan, penguasaan kekuatan alam, penambahan pengetahuan ilmiah telah terbukti berpotensi berbahaya karena tidak disertai dengan pemahaman aku dan disiplin aku.

Tapi tanpa merasakan makna dan nilai-nilai kehidupan, jiwa manusia cenderung rusak. Jika semuanya memiliki nilai yang sama, tidak ada kelebihan materi; hidup menjadi tidak bernilai serta hak dan kewajiban cenderung lenyap.
Peristiwa dekade terakhir telah membuatnya jelas, bahwa peradaban manusia tidak identik dengan standar hidup material. Peradaban manusia didasarkan pada nilai-nilai spiritual dan moral yang membuat seorang manusia, yang meminjamkan martabat kehidupan manusia dan semua menikmati. Peradaban manusia bangkit dan jatuh dengan  mengembangkan nilai-nilai, dan standar hidup material bangkit dan jatuh sesuai dengan peradaban manusia.  Kesejahteraan manusia, tidak identik dengan jumlah materi individu. Ide kesejahteraan adalah bahwa manusia bermurah hati dengan manusia

Pada saat akunya sebagai keinginan, minat, atau beberapa bentuk kemauan untuk hidup, adalah memanifestasikan aku-nya dalam pemikiran dan dalam proses kesadaran. Meyatatakan  aku dalam kreasi yang tinggi dan prestasi ilmu pengetahuan, seni, filsafat, dan agama. Jika manusia dapat memperoleh suatu kesadaran dari hubungan langsung dan strategis secara, ia akan mendapatkan suatu kesadaran yang baru yang akan memberi ketenangan dan makna hidupnya.
Seorang ahli biologi kontemporer mengatakan bahwa " kemajuan dan kemungkinan masa depan dapat dilanjutkan manusia”. Jika ini benar, itu berarti sebuah perubahan dalam arah evolusi, setidaknya, hal itu mengubah tingkat kemajuan. Kemajuan  manusia sejati terdiri pada meningkatkan pengalaman estetika, intelektual, dan spiritual dan kepuasan. Manusia  tidak hanya suatu “binatang” di antara banyak hewan, tetapi adalah makluk yang sadar aku, meningkatkan kontrol dan kemandirian, dan masa depan tergantung kepadanya, maka ia mungkin penting memperoleh perasaan dan tanggung jawab baru.
Jika manusia  mendapatkan perasaan makna hidup, ia membutuhkan kejelasan fakta yang unik aku atau person.   Aku" atau orang yang sadar aku yang dapat melampaui kealamiaan. Interpretasi tentang manusia  yang lalai atau mengabaikan ide dan cita-cita, kesadaran-akunya, daya pikiran abstrak, membeda-bedakan dan apresiasi estetika, kebutuhannya beribadah dan persahabatan, tidaklah memadai. Sebagai manusia, manusia bebas sampai batas tertentu dari keterbatasan anorganik dan tingkat eksistensi hanya organik. Manusia adalah makhluk yang mempunyai keinginan dan kebiasaan mengendalikan tujuan.
Pengalaman manusia kelihatannya menunjukkan bahwa manusia yang menggantungkan diri mereka kepada tugas-tugas di mana mereka dapat  memberikan kesetiaan dan antusiame akan menemukan arti dalam hidup. Pengabdian untuk sesuatu di luar aku yaitu kepada Tuhan akan memberi makna hidup. Makna hidup adalah untuk menumbuhkan, memperluas bidang kesadaran kita, dan bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai cita-cita manusia yang ideal.
III. KESIMPULAN
Jika seseorang merasa dirinya telah melakukan peran yang menonjol, dan mengarah dalam jalannya suatu pekerjaan, ia mungkin memperoleh perasasan yang memberikan kepadanya keseimbangan dan arti kehidupan. Untuk dapat merasakan itu, ia perlu selalu ingat tentang keistimewaan aku atau pribadi. Memang benar bahwa manusia mempunyai watak fisik dan kimia, bahwa ia didorong oleh kekuatan elektronik dan sel-sel bahwa ia dapat hidup secara binatang. Akan tetapi terdapat suatu aku, atau kesadaran aku yang mengatasi suatu keadaan alamiah yang tanpa pikiran. Sebagai orang, manusia  sampai batas tertentu, manusia itu bebas dari batasan-batasan yang berlaku bagi kehidupan inorganik tetapi tidak sampai derajad kesadaran aku. Manusia adalah suatu makluk yang dapat menempatkan keinginannya dan adat istiadatnya di bawah kontrol suatu tujuan yang dipilihnya secara sadar.
Istilah self (aku) atau selfhood menunjukkan subjek, yakni sesuatu yang tetap ada selama pengalaman-pengalaman yang berganti-ganti dari kehidupan seseorang. Aku adalah pusat dari identitas pribadi. Melalui kegiatan untuk mengintegrasikan atau memadukan, Aku itu mengatasi (transcedends) proses di mana ia terlibat. Manusia itu sadar akan kesadarannya. ”Aku” adalah hal khusus (private) dan pribadi (person). Tak ada seorang secara langsung mengalami kesadaran orang lain. David Hume mengingkari adanya Aku. Ia menekankan bahwa aku itu hanya kumpulan dari bermacam-macam persepsi. Yang ada hanya aliran dari ide-ide yang berturut-turut. Tak ada aku yang permanen dalam diri seseorang. Manusia akan mendapatkan arti baru tentang arah dan makna dari kesadarannya tentang keistimewaan manusia. Interpretasi manusia yang komprehensif, tetapi menganggap sepi kesadaran akunya adalah tidak cukup dan tidak sempurna.


Referensi.
Titus H., Harold. 1959. Living Issues in Philosophy. New York: American Book Company.

1 komentar: