I.
PENDAHULUAN
Seseorang
mungkin mendapat kesulitan dalam mengenali dirinya, sebanyak kesulitan yang ia
dapat mengenali orang lain. Banyak
soal-soal yang rumit yang timbul mengenai diri kita. Siapakah Aku ini?
Siapakah Anda? Apakah
kehidupan masuk akal? Apa arti dari eksitensi? Kita mungkin
mencoba untuk menghindari
atau bahkan menolak
pertanyaan-pertanyaan penting seperti ini, tetapi pertanyaan
itu selalu kembali dan memaksa kita. Terus
kita katakan, "Aku
berpikir", ”Aku merasa”, "Aku
melakukan”, "Aku harus”,
dan sebagainya. Hanya apa yang kita maksud
dengan "aku," "saya," "Anda"?
Kita mencoba menjawabnya, kadang-kadang karena ingin
tahu, tetapi kadang-kadang untuk sebab-sebab yang praktis. Istilah aku (self) atau individualitas (selfhood) menunjukkan ”subjek” atau
sesuatu yang tetap ada sepanjang pengalaman yang berubah-ubah untuk kehidupan
seseorang. Walaupun kita tidak dapat memberi definisi aku (self) secara
sempurna, namun kalimat itu merupakan konsep yang penting. Ada filosof yang
mengatakan bahwa ide ”aku” itu tidak
ada artinya, namun beberapa filosof lain tetap mengatakan bahwa ”aku” merupakan faktor yang penting dalam
kehidupan manusia. Aku (self) adalah sesuatu yang melakukan persepsi, memikir,
merasa, menghendaki, mimpi dan menentukan.
II.
PEMBAHASAN
Siapakah Aku? Siapakah Anda?
Apakah kehidupan masuk akal? Apa arti
dari eksitensi? Kita
mungkin mencoba untuk
menghindari atau bahkan
menolak pertanyaan-pertanyaan seperti ini, tetapi pertanyaan
itu selalu kembali dan memaksa kita. Terus
kita katakan, "Aku
berpikir”, "Aku merasa”, "Aku
melakukan”, "Aku harus”,
dan sebagainya. Hanya apa yang kita maksud
dengan "Aku", "Saya", "Anda"? Seorang
psikolog dengan pengalaman mengajar yang lama, konseling, dan
penelitian, mengatakan:
Berikut
masalah situasi yang dikomplain seseorang seperti refleksi yang dipelajari,
istri, pekerja, atau pengendaliannya atau sikapnya yang aneh, perasaan takut
menjadi pusat pertanyaan seseorang. Ini merupakan pertanyaan yang mendasar pada
setiap orang: ”Siapa aku sesungguhnya? Bagaimana saya boleh mengenal disi saya
sebenarnya melalui sikap saya yang nyata? Bagaimana saya boleh menjadi aku sendiri?
Dalam membahas "The Riddle of Man,"
(Teka-teka manusia), Emil Brunner
berkata bahwa pertanyaan aku tidak hanya
salah satu dari masalah.
Masalah lain mungkin kita lihat lebih besar atau lebih penting,
tapi tetap merupakan masalah. Semua masalah
berfokus pada satu
pertanyaan. Apa pertanyaan-yang ada di balik setiap pertanyaan? Siapa yang memandang
dunia tak terhingga? Siapa
yang tersiksa oleh
seluruh masalah hidup-baik dalam eksistensi manusia
atau yang lain?
Isu-isu besar filsafat,
psikologi, agama, dan kehidupan sehari-hari
ada pada sekitar pertanyaan tentang keberadaan dan
sifat (watak) aku. Dari satu sudut pandang
bisa dikatakan bahwa
kita adalah objek
antara objek-objek lain yang terletak pada
titik dalam ruang dan waktu
tertentu dengan adanya eksistensi.
Dari sudut pandang lain,
manusia tampaknya berada di atas semua obyek
pengalaman dan data
kesadaran tertentu
dan bahkan di atas ruang dan waktu
A.
Penyangkalan
“Aku”
Sejak abad ketujuh belas ketika manusia
mengalihkan perhatian mereka terhadap kehidupan batin manusia, ada sejumlah
besar penyangkalan kesadaran akan keberadaan aku. Perlawana terhadap Leibnitz
dan yang lainnya, yang menganggap aku sebagai
sesuatu yang aktif dan “digerakkan”
(self-propelled), umpamanya John Locke (1632-1704) mengatakan bahwa jiwa atau
akal merupakan tablet yang kosong. Terjadinya tindakan adalah karena pengaruh
dunia luar melalui perasaan. David Hume (1711-1776) mendukung pengingkaran Jhon
Locke lebih lanjut. Ia tak dapat menemukan substansi yang tetap tak berubah. Introspeksi
muncul hanya untuk mengungkapkan sekilas
sensasi yang datang dan pergi, atau apa yang
kadang-kadang disebut sebagai "aku empiris." Beberapa filsuf berkata, kita terus berpikir menjadi
sadar aku dan kesadaran
kita langsung menjadi identitas pribadi masih memerlukan bukti lebih lanjut dalam bentuk demonstrasi. Hume
menulis “tentang akuku”, jika aku masuk ke dalam apa yang dinamakan “akuku”.
Aku tak pernah dapat menangkap ‘akuku’
tanpa sesuatu persepsi dan tak pernah dapat menyimpan sesuatu kecuali persepsi.
Tentu saja persepsi-persepsi tersebut berlalu dan bersifat sementara.
Mengikuti
penyangkalan aku Hume, setidaknya dalam
arti di mana istilahnya
telah digunakan oleh
banyak filsuf di masa lalu. Sebagai contoh, penulis
buku teks yang cukup banyak digunakan dalam psikologi
berbicara tentang "Manusia mesin" dan menegaskan bahwa
"konsep aku tidak penting dalam analisis perilaku.
Peristiwa mental atau
psikis menegaskan kurangnya dimensi ilmu
fisika, sebagai alasan kita untuk menolaknya.
Ada kecenderungan untuk
bersikeras bahwa fisik, eksternal, dan yang kelihatan
lebih mendasar dari
apa yang tidak kelihatan. Hipotesis
"organisme kosong" atau "hollownun," bersama dengan
keyakinan bahwa manusia
termasuk pada hewan tingkat tinggi secara alami, telah
menguatkan pandangan bahwa manusia dapat dipelajari
melalui spesies yang lebih rendah. Jika manusia
hanya binatang, maka
studi sederhana tentang tikus putih dapat
mengungkapkan sifat alami manusia.
Dalam Jurnal Inggris,
FH Heinemann pernah berkata, "Manusia tanpa pikiran”. Hal ini tampaknya merupakan penemuan
terbaru abad ini, yang dibuat secara independen di Amerika, dan di Rusia. "Dia mengacu
pada titik pandang
tersebut dan gerakan perlawanan
Gilbert Ryle's di
Inggris atas aku atau pikiran sebagai ”hantu dalam mesin" pada behaviorisme metafisik
di Amerika Serikat,
dan materialisme dialektika
di Rusia. Untuk
pendekatan ini, Heinemann berkata,
"tidak diperbolehkan ada pikiran
atau perasaan pribadi."
Dalam hal yang sama
beberapa psikolog mengatakan bahwa mereka tidak suka menggunakan konsep dan istilah seperti aku, akal (mind) dan kesadaran aku (self consciousness), karena mereka
tidak suka terhela oleh “hantu” (spooks). Mereka ingin bersikap objektif dan
empiris, para psikolog tersebut, begitu juga para filosof yang setuju dengan
pandangan mereka, menghilangkan segala isyarat terhadap aku atau mengatakan bahwa mereka dapat menghadapi aku tersebut hanya jika aku itu menunjukkan diri secara
objektif dalam perilaku. Mereka itu sebagai gantinya, membicarakan tentang
dorongan (stimulus), respon (jawaban) dan behavioral
biografi. Dengan begitu maka metode
yang dipakai untuk mempelajari benda-benda inorganik, binatang dan mesin dapat
dipakai untuk mempelajari manusia. Metode ilmiah dan postulat telah menunjukkan
faidahnya dalam bidang fenomena yang objektif. Dalam mencapai sukses di
bidangnya sehingga ilmu alam (natural
science), ilmu perilaku (behavioral)
menghilangkan persoalan arti, nilai dan aku.
B.
Komentar Kritis
Apakah penolakan aku dan pikiran saat
ini sebagai sesuatu yang melampaui sebagian proses fisik karena keinginan
beberapa ilmuwan untuk memperluas metode objektif
ilmu pengetahuan yang menyertakan semua
realitas? Jika keinginan ini dipenuhi, semua
pertanyaan bisa dijawab,
dunia dan manusia direduksi menjadi serangkaian
konstruksi logis dengan mudah dapat
dimanipulasi. Apakah sebagian
penolakan aku
karena klaim bahwa
apa yang tidak bisa diamati atau atau diukur tidak ada? Apakah karena
sebagian interpretasi manusia hanya sebagai
produk dari lingkungannya?
Kita setuju bahwa kita tidak mau berurusan dengan "hantu," tetapi
ada unsur pengalaman
manusia, yang tidak
harus diabaikan hanya
karena metode. Hal
yang tidak bisa
dijelaskan dalam bahasa
perilaku eksternal mungkin masih menjadi bagian paling penting dari kehidupan
manusia. Tidak ada
keberatan terhadap metode ini,
jika diakui dan dipahami
untuk apa mereka,
dan jika hasilnya
tidak diperlakukan secara tidak sadar sebagai penjelasan lengkap dan
final. Tetapi ketika
hasilnya diperlakukan sebagai penjelasan lengkap, hidup
manusia termasuk dalam kerangka acuan dasar yang
berarti.
Kita melihat
pendapat dari
dua sarjana, seorang
filsuf dan psikolog,
yang memberikan reaksi
penolakan terhadap pentingnya aku
Kami telah mendefinisikan kehidupan manusia dalam arti yang luas, tetapi tidak
memberikan makna. Secara psikologi merupakan sifat
fisik, tetapi tidak mempunyai makna. Secara biologi, merupakan produk alam yang merupakan siklus tetapi tidak
mempunyai makna. Secara sosiologi bahwa manusia yang saling
membantu, yang merupakan tujuan secara biologi, yang memberikan pola
perilaku pada kita, tetapi tidak mempunyai makna. Semua ini merupakan hasil
prestasi, alasan ilmiah kita, diterima sebagai
data filsafat.
Gordon W. Allport mengatakan:
Sampai sekarang "ilmu-ilmu perilaku,"
termasuk psikologi, belum memberikan gambaran
bahwa manusia mampu menciptakan atau hidup
dalam demokrasi.
Sains sebagian besar
telah meniru model
fisika bola bilyar, pada ini
sudah ketinggalan zaman. Hal telah dimasukkan
ke dalam psikologi
"organisme kosong," yang
didorong oleh gerakan
dan dibentuk oleh
lingkungan. Apakah itu kecil dan parsial, yang
eksternal dan mekanik,
apa yang dini,
sekeliling dan oportunis-telah memberikan perhatian utama dalam
pengembangan secara psikologi. Tetapi teori
demokrasi membutuhkan proses pengukuran rasionalitas manusia,
porsi kebebasan, kata hati, cita-cita, dan nilai
yang khas.
Dia melanjutkan:
Manusia bercerita, tertawa, mengembangkan
budaya, berdoa, memiliki
ramalan kematian, belajar teologi, dan berusaha
untuk memperbaiki kepribadian sendiri. Ketidakterbatasan dari pola
yang dihasilkan ini adalah jelas
tidak ditemukan dalam makhluk naluri. Untuk
alasan ini kita
harus berhati-hati ketika kita mengekstrapolasi asumsi,
metode, dan konsep
ilmu pengetahuan alam dan biologi untuk
materi yang kita pelajari. Secara khusus
kita harus menolak
ketidakpedulian ilmu lain untuk masalah individualitas.
C.
Sifat “Aku”
SEJAK zaman Yunani awal telah ada
kecenderungan filsuf memikirkan aku dan
pikiran sebagai sinonim dan "menyamakan aku sebagai subjek pikiran,
dan aku sebagai
objek baik dengan
tubuh atau kesatuan
badan-pikiran."Pikiran
dapat diidentifikasi dengan" bentuk "atau
prinsip organisasi. Identifikasi aku dan pikiran terbuka untuk pertanyaan. Aku manusia tampaknya
terdiri dari tiga
unsur. Ada pemikiran, penalaran,
atau sisi mengetahui, disebut kognitif, ada
unsur perasaan atau
emosional, biasanya diistilahkan sebagai afektif, dan ada keinginan, berjuang,
kemauan, atau sisi
aktif, yang disebut konatif. Perbedaan tradisional
tampaknya didasarkan pada aspek-aspek fundamental
atau perbedaan dalam pengalaman manusia.
D. “Aku” Sebagai Pusat
Identitas Pribadi
Istilah aku (self) atau individualitas (selfhood) menunjukkan “subjek” atau
sesuatu yang tetap ada sepanjang pengalaman yang berubah-ubah dari kehidupan
seseorang. Aku (self) adalah sesuatu yang melakukan persepsi,
konsepsi, memikir, merasa, menghendaki, mimpi dan menentukan. Jika aku itu merupakan substansi atau benda
(banyak filosof modern menolak pandangan ini) maka akal itu adalah substansi
yang teristimewa sekali. Suatu substansi tidak harus bersifat “material”. Jika
kita mengatakan bahwa aku itu bukan substansi, kita dapat menggambarkannya
sebagai pusat dari identitas pribadi.
Terdapat
banyak bukti tentang adanya suatu unsur inti yang dapat diberi nama: self, ego, agent, mind, knower, soul, spirit
atau person. Kata-kata seperti
pengalaman langsung (immediate
experience) dan kesadaran (content of consiousness) mengandung
arti “adanya sesuatu yang mempunyai pengalaman, sesuatu yang memberikan
kesatuan (unity”. Kita berkata: aku
dalam menceritakan pengalaman-pengalaman yang terjadi sepuluh tahun yang
lalu, lima tahun yang lalu, kemarin atau sekarang, aku adalah sesuatu “kesatuan”, subjek yang mempunyai pengalaman,
yang tak dapat dianggap hanya sebagai bagian dari aku, atau sebagai unsur-unsur yang khusus dan berubah dari pengalaman
saya. Kalau istilah mind dan self
(akal dan aku) tak dapat dianggap benda yang sama, maka self (aku) atau person adalah yang memiliki pengalaman-pengalaman
tersebut yang kita namakan pengalaman mental.
Realitas
yang diketahui oleh seseorang secara langsung adalah aku-nya (self-ego). “Aku” diketahui secara lebih langsung dan
lebih meresap daripada dunia di luar diri seseorang. Dunia yang objektif yang
dapat dialami, diukur dan dimanipulasikan selalu dipandang dari segi
kepentingan aku (self) atau orang
yang mengerti. Aku mencakup kualitas keistimewaan serta
kelangsungan dalam perubahan, yakni kelangsungan yang memungkinkan seseorang
berkata Aku, kesadaran pribadi (self-consciousness) adalah kesadaran
aku terhadap dirinya. Manusia bukannya hanya sadar terhadap dirinya sebagai aku, akan tetapi ia juga sadar kepada
fakta bahwa ia sadar.
E. “Aku” Sebagai Integrator Pengalaman-Pengalaman
Semua
pengalaman yang menunjukkan adanya aku
(self) atau subjek yang bebas dan tidak tenggelam dalam proses atau kejadian-kejadian
yang melingkupinya. Oleh karena kekuatannya untuk mengintegrasikan sesuatu atau
mengadakan perpaduan, maka aku
mengatasi (transcedends) proses di
mana ia terlibat. Manusia mempunyai pengalaman tentang dunia sebagai “suatu dunia
yang penuh dengan objek yang terbuka untuk pengamatan”. Manusia mengalami
dirinya sendiri sebagai “kesadaran dalam (inner
awareness) bahwa ia hidup”. Orang yang mengingkari adanya aku (selfhood)
sebagai sesuatu yang terpisah dari tingkah laku yang objektif dan dapat dilihat,
ia akan tetap mengatakan bahwa ide-idenya adalah benar. Tetapi bukankah
pengingkaran terhadap aku malahan
menjadi pengakuan kepadanya? Jika yang dinamakan kebenaran dan kebohongan ada,
niscaya berpikir tidak hanya berarti tentetan perasaan yang datang bertubi-tubi
tetapi tidak mengenai pusat identitas yang memberikan sifat kesatuan kepadanya.
Kebenaran dan kebohongan, pengenalan atau pengetahuan harus disadari dengan
adanya aku atau sesuatu yang memikir.
Bagaimana kita dapat membandingkan benda-benda tanpa memikirkan pembanding yang
berada di luar benda-benda yang dibandingkan? Kontinuitas pikiran yang
memungkinkan manusia mengadakan argumen yang panjang atau menulis buku
menunjukkan adanya aku yang
melangsungkan atau subjek yang mengetahui.
Psikolog, Rollo May berkata: Aku adalah
fungsi yang mengorganisir yang ada dalam seseorang. Aku ada sebelum kita memperoleh sains dan bukan objek sains
tersebut. J B. Pratt mengatakan bahwa
kita harus menerima "
realitas aku"
atau menuju bentuk naturalisme
ekstrim dan “membunuh pikiran”. Karl
Heim, menunjukkan bahwa kita dapat
melihat realitas hanya dari sudut pandang pusat
aku. Hal yang aneh mengenai
ego, yang menjadikan alam
sebagai objek persepsi dan kehendaknya adalah walaupun ego tersebut paling dekat dan sangat terkenal dengan kita, walaupun kita masing-masing sadar akan adanya, namun
adalah mustahil bagi kita untuk menggambarkan secara objektif sebagaimana kita melukiskan
sebuah kristal atau
bunga atau rumah.
F.
“Aku” Sebagai Hal yang Khusus
Di samping sifat permanence dan transcendence, aku mempunyai sifat khusus (private), yakni sifat yang tidak melekat
kepada badan.
Kita mempunyai pengetahuan
yang langsung tentang aku kita yang
bersifat pribadi yang tidak dapat dilukisksan secara sempurna dengan istilah-istilah
yang objektif. Sehubungan dengan dunia objektif saya berbicara
tentang tubuh saya,
lingkungan saya, pengalaman saya. Aku
tidak bertukar "di
sini" atau "di sana" di mana saya menemukan
aku dengan orang
lain. Aku dapat memberikan sebuah mataku atau ginjalku
atau sebagaian dari darahku kepada orang lain, aku tak dapat mengganti isi
kesadaran orang lain dengan kesadaranku. Kita dapat mengetahui secara sempurna
apa yang dipikirkan oleh orang lain. Aku
tak dapat memasuki alam orang lain, walaupun dengan perantaraan bentuk
komunikasi yang bermacam-macam kita dengan merasa simpati, mengerti atau
menunjukkan perasaan mendalam.
Meskipun ada banyak faktor variabel
tentang saya, ada
faktor konstan di mana saya tidak bisa melepaskan aku. Bahkan
saat aku memikirkan
dissolusi yang dikenal sebagai kematian, dalam arti
yang sangat unik kematian
saya yang akan
datang.
Selain itu, privasi dari aku yang berarti hanya aku bisa tahu aku.
Aku ini tidak dapat dibuktikan secara objektif seperti objek dalam
ruang dan waktu, juga tidak
ditemukan di antara objek kesadaran. "Aku"
tidak dapat ditemukan di antara persepsi rasa, karena tidak ada kemungkinan
aku menjadi objek akal.
Hal ini sifat pribadi dari aku
berarti bahwa aku memiliki kualitas
yang sulit dijelaskan.
Beberapa ilmuwan mengklaim
bahwa mereka dapat
menangani internal dan subjektif hanya
sebagai memanifestasikan aku-nya dalam perilaku objektif
dan bahwa segala sesuatu di luar ini mungkin diabaikan.
Tujuan perilaku tidak
mengungkapkan banyak hal, tetapi tidak
menghiraukan sifat batin dan pribadi aku.
G. ”Aku” Sebagai yang Mengatasi (Transcendor) Waktu
Hubungan aku dengan proses waktu
adalah salah satu dari problema yang sangat mendalam dari kehidupan manusia. Manusia
adalah suatu makluk yang sangat terbatas,
dengan kehidupan yang terbatas dengan waktu, tetapi ia mengatasi (transcedends) dan berada di atas
rangkaian waktu. Manusia mempunyai
kemampuan untuk membicarakan masa yang lalu dan masa mendatang. Manusia juga
memiliki daya melihat ke depan, kemampuan untuk merencanakan, menebak yang
belum terjadi dengan sedikit atau banyak kepastian, mengadakan rencana dan
sampai batas tertentu membentuk hari esok. Walaupun begitu, aku-ku tak dapat dimengerti, terikat
dengan waktu sekarang walaupun dalam ingatanku aku dapat bergerak ke masa lau dan dalam imajinasi aku dapat melompat ke masa depan. Aku terikat dan tak terpisahkan dari ”sekarang” yang berbeda dalam kualitasnya
dari rentetan titik-titik. Aku-ku
menjadi pusat waktu, dan hari kemarin dan hari esok dapat dilihat oleh aku sekarang.
H. “Aku” yang Unik
Sampai sekarang definisi aku
sukar untuk dilukiskan. Istilah seperti kehidupan (life), aku (self) dan
Tuhan (God) sukar untuk dijelaksan:
usaha untuk menjelaskan arti istilah-istilah
tersebut nampaknya akan mengubah watak (nature)-nya dan membatasi implikasinya. Walaupun kita tidak
dapat memberi definisi aku
(self) secara sempurna, namun kalimat itu merupakan konsep yang
penting. Beberapa filosof lain mengatakan bahwa “aku” merupakan faktor yang
penting dalam kehidupan. Kita tidak dapat menghilangkan kesadaran (awareness), kesadaran pribadi (self-consciousness), dan jiwa (mind) dari interpretasi kita tentang
urusan-urusan manusia tanpa mengingkari hal besar yang sentral (pokok) dalam
pengalaman manusia. menghilangkan “aku” adalah untuk menghilangkan pengetahuan dan untuk menolak
ilmu pengetahuan itu. Logika adalah metode
memeriksa aku. Matematika adalah
memeriksa relasi “aku” dengan yang lain.
Psikologi menggambarkan sensasi aku atau perilaku,
dan sejenisnya. Sejarah
manusia sendiri merupakan cerita tentang makluk-makluk yang sadar dan berakal,
yakni aku (self) yang bergerak dalam waktu, mengamati, memikir dan membaca
bermacam-macam maksud. Aku lebih dari
materi yang dianalisis dan digambarkan.
Jika dua hal yang sama atau identik, satu bisa
diganti dengan yang lain tanpa kehilangan atau
kebingungan. Ketika kita membandingkan tubuh, di
satu sisi, dan aku di sisi
lain, substitusi ini
tidak dapat dibuat. Apakah kita menganggap aku sebagai
substansi, prinsip organisasi, atau sebagai
kesatuan pribadi, tampaknya ada perbedaan mendasar antara materi
dan aku,
dan mereka berfungsi pada tingkat yang berbeda. Misalnya, materi dan
badan berada dalam ruang. Mereka dapat dibagi
dan diukur. Aku dan berpikir, termasuk pengetahuan, tidak berada dalam ruang
dan tidak dapat
dibagi dan diukur.
Badan jatuh, karena
dipengaruhi oleh gravitasi sedangkan
pengetahuan tidak jatuh.
I.
“Aku” dalam Pandangan Buber dan Macmuray
Kita
memilih dua pandangan
baru tentang penjelasan singkat tentang “aku”. Yang pertama
adalah sarjana Yahudi, Martin
Buber, yang memberikan
perhatian utama pada eksistensialis. Yang kedua adalah bahwa seorang sarjana Inggris, John Macmurray.
Pendekatan
Dialogis Martin Buber
Dalam karangannya Martin
Buber (1978-1865) memberikan pendapatnya tentang aku dan hubungan antara orang dan orang lain serta antara orang dan
barang, yang dinamakan dengan pendekatan
dialogis (dialogic approach). Menurut Buber, pengetahuan itu ada dua macam
yang sangat berbeda. Sebagai akibatnya, terdapatlah dua sikap yang berbeda
terhadap pengalaman, dua pendekatan terhadap aku dan dua macam hubungan
terhadap lingkungan; dua hubungan tersebut tidak dapat ditukar satu sama lain.
Pertama, aku mungkin
mengetahui aku lain dengan cara saling mengenal. Di sini hubungan pokok adalah
antara subjek dengan subjek, atau aku
dengan aku. Contoh pertama tentang
ini adalah hubungan bayi dengan ibunya. Dari kesadaran yang kurang terang ini,
timbullah perbedaan antara aku dan engkau, antara aku dan aku lainnya. Aku
mengenal seorang lain sebagai Thou.
Ini adalah hubungan I dan Thou. Aku mengenal seorang lain (aku
lain) dalam kedudukannya dan aku
menghendaki suatu tanggapan, ini adalah hubungan timbal-balik di mana persatuan
itu mungkin. Hubungan I – Thou, atau
hubungan orang dengan orang mengandung pertemuan yang murni, yang berarti bahwa
tiap pihak mencurahkan isi wujudnya kepada pihak lain. Buber berkata “semua
kehidupan yang nyata adalah pertemuan”
Kedua, aku
mengetahui sesuatu sebagai it (itu) sebagai
suatu objek di luar. Objek tersebut adalah salah satu dari beberapa objek yang
berada di ruang atau waktu, dapat diukur dan tunduk kepada peraturan
sebab-akibat (causal laws). Hubungan I-It adalah hubungan antara seseorang
dengan benda atau subjek dengan objek. Maksud dari pengetahuan adalah hubungan I – It biasanya adalah untuk mengontrol
hal yang tidak diketahui. Yang mengetahui terpisah dari yang diketahui dan
hubungan itu pokoknya adalah hubungan manipulasi. Hubungan semacam itu dapat
diberikan contoh oleh sains. Dalam sains, aku
melakukan kontrol tetapi terpisah
dari eksperimen. Karena terpisahnya subjek, dan karena konsentrasi terhadap
objek, maka dalam sains terdapat kecenderungan untuk mengingkari aku.
Sikap I – Thou dan I – It
keduanya penting bagi watak manusia.
Kata I – Thou hanya dapat dipakai
dalam segala wujud orang yang mengatakan. Kata I – It adalah sebaliknya. Jika aku menghadapi seseorang sebagai Thou, dan mengadakan dialog I – Thou dengannya, orang itu bukannya
benda dan tidak terdiri dari benda-benda. Saya juga dapat bertemu dengan seseorang dan menganggapnya sebagai aku dan menjadikan aku tersebut sebagai objek atau It
untuk keperluan saya. Manusia dapat diperlakukan sebagai benda, dikondisikan,
dimanipulasikan dan dicuci-otakkan (brainwash).
Manusia tak dapat hidup tanpa It, maka
dunia It yang selalu membesar akan
mengalahkannya, dan mencabut realitas I-nya
darinya.
Kita dilahirkan sebagai pribadi-pribadi yang berlainan satu dengan yang
lainnya. Kita menjadi aku yang benar-benar jika kita mempunyai
hubungan yang erat dengan orang-orang lain. Melewati Thou seseorang menjadi I. Aku
itu bersifat sosial dan interpersonal, dan seseorang yang real adalah
orang-orang yang hidup antara orang dan orang. Hubungan I – Thou mempunyai ciri-ciri timbal balik, langsung dan kesungguhan
(intensity). Dalam hubungan semacam
itulah suatu dialog atau pengetahuan dapat terlaksana. Dialog tersebut mungkin
dengan perkataan atau secara diam-diam. Bahkan dialog tersebut terjadi dengan
sekadar pandangan yang spontan dan tanpa gaya
akan tetapi mengandung pemahaman dan perhatian yang timbal balik.
Buber protes terhadap
“pembendaan” serta kecederungan depersonalisasi, karena kedua hal tersebut akan
berakibat mengingkari aku dan
menghalagi ekspresinya. Suatu jemaat yang sejati akan timbul dari I – Thou. Beberapa orang hanya dapat hidup dalam
hubungan yang timbal balik jika mereka
dapat berkata Thou seseorang kepada
yang lain yang baik itu adalah persatuan jiwa dengan kehidupan. Suatu jemaat
yang organik itu didasarkan atas kerjasama dan pengakuan pribadi sebagai
pribadi (person) serta pengakuan aku sebagai subjek.
Pandangan
John Macmurray tentang “AKU”
John Macmurray mengatakan bahwa penafsiran tradisional Aku sebagai agen tidak memadai dan menyesatkan. Pendekatan tradisional mengacu pada Descartes, yang menekankan aku
pada saat refleksi.
Saya berpikir; karena itu aku ada "menjadi aku" murni subjek dan
dunia adalah objek.
Aku berpikir "menjadi pusat acuan”.
Penekanan pada aku dalam kegiatan
reflektif berarti bahwa aku berdiri
di atas dunia. Berdiri dalam kontemplasi, terlepas dari partisipasi
dalam peristiwa-peristiwa dunia. Pendekatan ini mengandaikan keutamaan
teoritis dan mengarah
ke sikap yang
terpengaruh dualisme atau bifurkasi alam.
Sejak zaman Yunani,
pandangan pada pengetahuan
cenderung telah diorganisasikan.
Penafsiran
tradisional aku telah jauh terdistorsi. Dalam tindakan kita
berseberangan dengan objek. Kita
tidak berpartisipasi secara aktif di dalamnya atau melakukan sesuatu untuk itu. Macmurray menegaskan bahwa
perasaan yang menyentuh sebelum penglihatan. Dalam arti
perasaan kita memiliki
kontak dengan obyek
atau yang lain
dan memiliki sifat kesadaran alami.
Pandangan bersifat pasif, sedangkan persepsi
bersifat aktif dan berhubungan dengan sifat
objek atau yang
lain. Terlepas dari persepsi sebelumnya, pandangan
bisa memberikan sedikit
makna atau pemahaman
bagi kita.
Filsafat modern telah melewati dua
tahap yang berbeda dan sekarang muncul fase
yang ketiga. Tahap pertama sesuai dengan
masa penciptaan ilmu
fisika dari Descartes ke Hume. Periode ini didominasi oleh konsep,
menurut Macmurray, adalah "substansi", bentuk dan metode
yang matematis. Tahap
kedua penekanannya
adalah pada ilmu
biologi. Periode ini
mulai dari Kant
hingga saat ini. Perhatian utama adalah pada hidup dan konsep kunci adalah
organisme. Penekanan pada aku sebagai
substansi dalam fase
kedua bahwa ide
aku sebagai organisme.
Tahap yang baru dari filsafat modern
"bentuk pribadi" adalah masalah kontemporer. Mekanisasi dan bentuk-bentuk pemikiran
organik, gagal mempertimbangkan sifat
dari aku, penekanannya pada "aku sebagai agen"
dan individu yang
ada aktif. “Saya berpikir maka aku ada”. Macmurray menggantikan orang yang aktif "I do ". Semua pengetahuan bermakna
karena tindakan. I do sebuah pengandaian semua pengalaman
manusia, termasuk "Aku tahu bahwa aku"
sebagai aspek aku. Kita harus
mulai mempraktekkan dan melakukan pemikiran kita
dari sudut pandang tindakan. Aku adalah
yang melakukan, bukan hanya berpikir.
Kesatuan aku bukan merupakan kesatuan material
saja, atau kesatuan organik, yang
merupakan kesatuan pribadi. Materi tidak termasuk organik, organik tidak
termasuk pribadi. Konsep seseorang adalah termasuk
konsep dari suatu organisme, konsep organisme termasuk konsep tubuh secara
materi.. Jawaban skeptisisme Hume bahwa bentuk
material adalah konstruksi organik. Instrument pemikiran tegas menolak dua yang lainnya,
karena kita tidak perlu memahami pengalaman manusia dengan analogi pengetahuan
organisme atau substansi, tetapi langsung dalam istilah karakter pribadi yang unik. "
Macmurray percaya bahwa di
masa lalu kita cenderung mengajukan pertanyaan yang salah dalam
mempertimbangkan sifat aku. Akibatnya
bahkan kebenaran dari analisis logis sangat kecil konsekuensinya. Pendekatan
baru ini menekankan keutuhan pengalaman secara keseluruhan, bukan hanya
kesatuan pengetahuan.
J. Makna Eksistensi Manusia
Saat ini mungkin mustahil
untuk membuktikan kebermaknaan dan keberartian hidup, sejumlah petanyaan yang
dikemukakan oleh manusia dalam pencarian mereka dalam arti dan makna. Mereka
ingin mendapatkan dalam arah kesadaran. Kehidupan yang berarti bagi manusia akan bergantung pada akhir analisis,
tempat berlangsung kehidupan manusia di alam semesta secara keseluruhan, atau
atas pandangan kita terhadap dunia. Banyak penulis telah menyerukan perhatian
tentang hilangnya perasaan makna dalam hidup dan kerusakan yang dihasilkan
masyarakat modern.
Peradaban modern pada abad
pertengahan: kemajuan teknis tenaga kerja, otomatisasi, proses kehidupan
sehari-hari, jumlah tindakan perusakan, merupakan akibat dehumanisasi. Munculnya
mesin dan jatuhnya peradaban manusia adalah dua bagian proses yang sama. Manusia
modern adalah korban dari sejumlah nilai-nilai instrumen yang lain. Kekuasaan,
penguasaan kekuatan alam, penambahan pengetahuan ilmiah telah terbukti
berpotensi berbahaya karena tidak disertai dengan pemahaman aku dan disiplin aku.
Tapi tanpa merasakan makna
dan nilai-nilai kehidupan, jiwa manusia cenderung rusak. Jika semuanya memiliki
nilai yang sama, tidak ada kelebihan materi; hidup menjadi tidak bernilai serta
hak dan kewajiban cenderung lenyap.
Peristiwa dekade terakhir telah
membuatnya jelas, bahwa peradaban manusia tidak identik dengan standar hidup
material. Peradaban manusia didasarkan pada nilai-nilai spiritual dan moral
yang membuat seorang manusia, yang meminjamkan martabat kehidupan manusia dan
semua menikmati. Peradaban manusia bangkit dan jatuh dengan mengembangkan nilai-nilai, dan standar hidup
material bangkit dan jatuh sesuai dengan peradaban manusia. Kesejahteraan manusia, tidak identik dengan
jumlah materi individu. Ide kesejahteraan adalah bahwa manusia bermurah hati
dengan manusia
Pada saat akunya sebagai keinginan, minat, atau
beberapa bentuk kemauan untuk hidup, adalah memanifestasikan aku-nya dalam pemikiran dan dalam proses
kesadaran. Meyatatakan aku dalam kreasi yang tinggi dan
prestasi ilmu pengetahuan, seni, filsafat, dan agama. Jika
manusia dapat memperoleh suatu kesadaran dari hubungan langsung dan strategis secara,
ia akan mendapatkan suatu kesadaran yang baru yang akan memberi ketenangan dan
makna hidupnya.
Seorang ahli biologi kontemporer mengatakan bahwa " kemajuan dan
kemungkinan masa depan dapat dilanjutkan manusia”. Jika ini benar, itu berarti sebuah
perubahan dalam arah evolusi, setidaknya, hal itu mengubah tingkat kemajuan. Kemajuan
manusia sejati terdiri pada meningkatkan
pengalaman estetika, intelektual, dan spiritual dan kepuasan. Manusia tidak hanya suatu “binatang” di antara banyak
hewan, tetapi adalah makluk yang sadar aku,
meningkatkan kontrol dan kemandirian, dan masa depan tergantung kepadanya, maka
ia mungkin penting memperoleh perasaan dan tanggung jawab baru.
Jika manusia mendapatkan perasaan
makna hidup, ia membutuhkan kejelasan fakta yang unik aku atau person. Aku" atau orang yang sadar aku yang dapat melampaui kealamiaan. Interpretasi
tentang manusia yang lalai atau
mengabaikan ide dan cita-cita, kesadaran-akunya,
daya pikiran abstrak, membeda-bedakan dan apresiasi estetika, kebutuhannya
beribadah dan persahabatan, tidaklah memadai. Sebagai manusia, manusia bebas
sampai batas tertentu dari keterbatasan anorganik dan tingkat eksistensi hanya
organik. Manusia adalah makhluk yang mempunyai keinginan dan kebiasaan
mengendalikan tujuan.
Pengalaman manusia kelihatannya menunjukkan bahwa manusia
yang menggantungkan diri mereka kepada tugas-tugas di
mana mereka dapat memberikan kesetiaan dan
antusiame akan menemukan arti dalam hidup. Pengabdian untuk sesuatu di
luar aku yaitu kepada Tuhan akan memberi
makna hidup. Makna hidup adalah untuk menumbuhkan, memperluas bidang kesadaran
kita, dan bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai cita-cita manusia yang
ideal.
III. KESIMPULAN
Jika seseorang merasa dirinya telah melakukan peran yang menonjol, dan
mengarah dalam jalannya suatu pekerjaan, ia mungkin memperoleh perasasan yang
memberikan kepadanya keseimbangan dan arti kehidupan. Untuk dapat merasakan
itu, ia perlu selalu ingat tentang keistimewaan aku atau pribadi. Memang benar bahwa manusia mempunyai watak fisik
dan kimia, bahwa ia didorong oleh kekuatan elektronik dan sel-sel bahwa ia
dapat hidup secara binatang. Akan tetapi terdapat suatu aku, atau kesadaran aku yang
mengatasi suatu keadaan alamiah yang tanpa pikiran. Sebagai orang, manusia sampai batas tertentu, manusia itu bebas dari
batasan-batasan yang berlaku bagi kehidupan inorganik tetapi tidak sampai
derajad kesadaran aku. Manusia adalah
suatu makluk yang dapat menempatkan keinginannya dan adat istiadatnya di bawah
kontrol suatu tujuan yang dipilihnya secara sadar.
Istilah self (aku) atau selfhood menunjukkan subjek, yakni sesuatu yang
tetap ada selama pengalaman-pengalaman yang berganti-ganti dari kehidupan
seseorang. Aku adalah pusat dari
identitas pribadi. Melalui kegiatan untuk mengintegrasikan atau memadukan, Aku itu mengatasi (transcedends) proses di mana ia terlibat. Manusia itu sadar akan
kesadarannya. ”Aku” adalah hal khusus
(private) dan pribadi (person). Tak ada seorang secara langsung
mengalami kesadaran orang lain. David Hume mengingkari adanya Aku. Ia menekankan bahwa aku itu hanya kumpulan dari
bermacam-macam persepsi. Yang ada hanya aliran dari ide-ide yang
berturut-turut. Tak ada aku yang
permanen dalam diri seseorang. Manusia akan mendapatkan arti baru tentang arah
dan makna dari kesadarannya tentang keistimewaan manusia. Interpretasi manusia
yang komprehensif, tetapi menganggap sepi kesadaran akunya adalah tidak cukup
dan tidak sempurna.
Referensi.
Titus H., Harold. 1959.
Living Issues in Philosophy. New York: American Book
Company.
sipp!!
BalasHapus