Cari Blog Ini
Minggu, 01 Oktober 2017
Selasa, 29 Agustus 2017
PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN PEMBELAJARAN KONVENSIONAL TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA
PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN
PEMBELAJARAN KONVENSIONAL TERHADAP
KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS
SISWA SMA
Muktar B. Panjaitan
Asister
Fernando Siagian
FKIP
Universitas HKBP Nommensen-Medan
muktar.panjaitan@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan model pembelajaran
inkuiri terbimbing dan pembelajaran
konvensional terhadap kemampuan berpikir kritis siswa SMA. Sampel
dalam penelitian ini dilakukan secara
random sampling sebanyak dua kelas, dimana kelas pertama sebagai kelas eksperimen
diterapkan
model pembelajaran inkuiri terbimbing dan kelas
kedua sebagai kelas kontrol diterapkan pembelajaran konvensional. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu instrumen tes kemampuan berpikir kritis
dalam bentuk uraian sebanyak empat soal yang telah dinyatakan valid dan
reliabel. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh model pembelajaran inkuiri
terbimbing dan pembelajaran konvensional terhadap kemampuan berpikir kritis
siswa, dalam hal ini kemampuan berpikir kritis siswa yang diajarkan dengan
model pembelajaran inkuiri terbimbing lebih baik dari pembelajaran
konvensional.
Kata Kunci: inkuiri terbimbing dan keterampilan berpikir kritis
EFFECT
OF LEARNING MODEL GUIDED INQUIRY
ON
CRITICAL THINKING SKILLS
HIGH
SCHOOL STUDENT
Abstract
The purpose of this study to
determine whether there are differences in guided inquiry learning model and
conventional learning on the critical thinking skills of high school students.
The sample in this research is done by random sampling as much as two classes,
where the first class as experimental class applied guided inquiry learning
model and second class as control class applied conventional learning. The
instrument used in this study is the critical thinking skills test tool in the
form of a description of four questions that have been declared valid and
reliable. From the research result, it can be concluded that there is influence
of guided inquiry learning model and conventional learning toward students'
critical thinking ability, in this case the critical thinking ability of
students taught with guided inquiry learning model is better than conventional
learning.
Keywords:
guided inquiry and critical thinking skills
PENDAHULUAN
Ilmu pengetahuan dan teknologi
sangat berperan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah
satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia yaitu meningkatkan mutu
pendidikan. Pendidikan adalah sarana dan alat yang tepat dalam membentuk
masyarakat dan bangsa yang berkualitas. Orang yang berpendidikan akan lebih
berpengetahuan, terampil, inovatif dan produktif dibandingkan mereka yang tidak
berpendidikan. Pendidikan berlangsung disegala jenis,
bentuk dan tingkat lingkungan hidup, yang kemudian mendorong pertumbuhan segala potensi yang ada di dalam
diri individu sehingga menjadikan proses perubahan menuju pendewasaan,
pencerdasan dan pematangan diri. Sesuai dalam Undang-Undang Pendidikan No
20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam proses pembelajaran fisika
harus menekankan kepada siswa sebagai insan yang memiliki potensi untuk belajar
dan berkembang, dan siswa terlibat secara aktif dalam pencarian dan pembentukan
pengetahuan oleh diri mereka sendiri. Melalui belajar fisika, siswa mendapatkan
kesempatan untuk mengembangkan keterampilan proses sains, berpikir sistematis,
logis dan kritis dalam mengkomunikasikan gagasan atau penyelesaian dari suatu
permasalahan fisika yang dihadapi.
Berdasarkan uraian
di atasaspek berpikir kritis merupakan kompetensi yang harus dimiliki siswa
sebagai standar yang harus dikembangkan. Agar terjadi pengkontruksian pengetahuan secara bermakna,
guru haruslah melatih siswa agar berpikir secara kritis dalam menganalisis
maupun dalam memecahkan suatu permasalahan. Siswa yang berpikir kritis adalah
siswa yang mampu mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengkontruksi argumen serta
mampu memecahkan masalah dengan tepat. Siswa yang berpikir kritis akan mampu
menolong dirinya atau orang lain dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi.
Berpikir kritis merupakan
kemampuan untuk mengorganisasi, menganalisis dan mengevaluasi argumen, proses
mental, strategi dan representasi seseorang yang digunakan untuk memecahkan
masalah, membuat keputusan dan mempelajari konsep baru, dan cara berpikir
reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan untuk
menentukan apa yang akan dikerjakan dan diyakini. Kemampuan berpikir kritis
merupakan kemampuan yang akan digunakan untuk mengintegrasikan konsep yang
diterima dari proses pembelajaran di sekolah dengan masalah yang akan dihadapi
pada kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sekolah sebaiknya tidak hanya
menekankan pada pemahaman konsep siswa tetapi juga keterampilan berpikirnya.
Fisika juga adalah ilmu
pengetahuan yang menggunakan metode ilmiah dalam prosesnya. Dengan demikian
maka proses pembelajaran fisika bukan hanya memahami konsep-konsep fisika
semata, melainkan juga mengajar siswa berpikir konstruktif melalui fisika
sebagai keterampilan berpikir kritis, sehingga pemahaman siswa terhadap hakikat fisika menjadi
utuh, baik sebagai proses maupun sebagai produk.
Kenyataan di lapangan pada saat
ini bahwa hasil belajar siswa masih rendah khususnya dalam hal keterampilan
berpikir kritis. Rendahnya keterampilan berpikir kritiskarena guru hanya
menekankan kepada hapalan terhadap rumus fisika dan siswa tidak pernah
dilibatkan dalam melakukan eksperimen. Inilah yang menjadi salah satu penyebab
rendahnya mutu pendidikan di Indonesia terutama dalam mata pelajaran fisika
terutama dalam hal berpikir kritis.
Kenyataan yang mengatakan bahwa
“mutu pendidikan Indonesia terutama dalam mata pelajaran fisika masih rendah”.
Adapun data yang mendukung hal tersebut adalah data The Trends in Internasional Mathematics and Science Study (TIMSS) menyebutkan siswa Indonesia hanya
mampu menjawab konsep dasar atau hapalan dan tidak mampu menjawab soal yang
memerlukan nalar dan analisis. Untuk bidang sains Tahun 2003 Indonesia
menempati peringkat 37 dari 46 negara dan tahun 2007 Indonesia menempati
peringkat 35 dari 49 negara (Efendi, 2010).
Rendahnya hasil belajar fisika
didukung dengan hasil observasi yang dilakukan di SMA Swasta Kartika
Pematangsiantar, pembelajaran yang digunakan oleh guru fisika selama ini
cenderung menggunakan pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru dengan
urutan ceramah, tanya jawab dan penugasan menyebabkan pembelajaran kurang
bermakna. Berdasarkan studi dokumentasi di sekolah tersebut menunjukkan nilai rata-rata ujian siswa baik
semester ganjil maupun genap untuk mata
pelajaran fisika masih rendah. Berdasarkan Daftar Kumpulan Nilai (DKN) T.P. 2014/2015 siswa kelas X untuk
semester I yaitu 65,05 dan untuk semester II yaitu 65,67 dengan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) disekolah tersebut adalah 67.
Rendahnya
hasil belajar fisika antara lain diukur dari rendahnya keterampilan berpikir
kritis. Padahal keterampilan berpikir kritis sangat penting untuk meningkatkan
hasil belajar siswa. Banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya hasil
belajar khususnya berpikir kritis salah satunya adalah dalam proses belajar
mengajar, guru mengajarkan konsep melalui kegiatan yang kurang berpusat pada
siswa. Siswa tidak dilibatkan secara aktif sehingga kurang memberikan
kesempatan untuk mengembangkan proses berpikirnya. Selain itu pembelajaran
fisika belum bermakna, bersusun dan tidak menekankan pada berpikir kritis,
sehingga keterampilan fisika siswa masih rendah. Hal tersebut juga merupakan
salah satu yang menyebabkan isi pembelajaran fisika dianggap sebagai hapalan,
sehingga siswa tidak memiliki keterampilan berpikir kritis. Siswa yang belajar
dengan hapalan tingkat kebermaknaannya akan rendah.
Hal lain yang merupakan salah
satu faktor kekurang-tertarikan peserta didik adalah suasana kelas yang pasif
serta sebagian peserta didik terlanjur menganggap bahwa fisika adalah pelajaran
yang sulit sehingga kecenderungan kelas menjadi tegang, karena itulah
diperlukan guru yang aktif dan kreatif dalam kegiatan pembelajaran juga model
pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Maka dengan
disahkannya kurikulum yang berlaku pada saat ini, diperlukan model pembelajaran
yang dapat menunjang tercapainya visi kurikulum.
Salah
satu model yang ditenggarai efektif meningkatkan keterampilan berpikir kritis
adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing. Menurut Trowbrige & Bybee (1990) “inkuiri terbimbing adalah proses
menemukan dan menyelidiki masalah-masalah, menyusun hipotesis, merencanakan
eksperimen, mengumpulkan data dan menarik kesimpulan data serta menarik
kesimpulan tentang hasil masalah. Siswa harus membangun sendiri
pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses
ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide
sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi
mereka sendiri untuk belajar. Tujuan utama model inkuiri adalah mengembangkan
keterampilan intelektual, berfikir kritis.
Proses
berpikir kompleks dikenal sebagai proses berpikir tingkat tinggi. Proses
berpikir kompleks meliputi empat kelompok, yakni pemecahan masalah, membuat
keputusan, berpikir kritis dan berpikir kreatif Costa (1985). Pengertian
berpikir kritis adalah kemampuan untuk mengorganisasi, menganalisis dan
mengevaluasi argumen, proses mental, strategi dan representasi seseorang yang
digunakan untuk memecahkan masalah, membuat keputusan dan mempelajari konsep
baru, dan cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang
difokuskan untuk menentukan apa yang akan dikerjakan dan diyakini (Ennis,
1996). Penemuan indikator keterampilan berpikir kritis dapat diungkapkan
melalui aspek-aspek perilaku yang diungkapkan Angelo (1995) dalam defenisi
berpikir kritis.
Indikator keterampilan berpikir
kritis yaitu : (1)
keterampilan menganalisis; (2) keterampilan mensintesis; (3) keterampilan
mengenal dan memecahkan masalah; (4) keterampilan menyimpulkan
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di SMA Swasta
Kartika Pematangsiantar, pada semester ganjil bulan Nopember Tahun Pelajaran
2015/2016. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X semester
II SMA Swasta Kartika Pematangsiantar yang berjumlah 4 (empat) kelas. Masing-masing kelas terdiri dari 38 siswa dengan total populasi
berjumlah 152
siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa SMA Swasta Kartika Pematangsiantar
kelas X dengan metode pengambilan sampel adalah metode random (probability sampling), dimana
pemilihan sampel tidak dilakukan secara subyektif, dalam arti sampel yang
terpilih tidak didasarkan pada keinginan peneliti, sehingga setiap anggota
sampel memiliki kesempatan yang sama (acak) untuk terpilih sebagai sampel
(Sugiharto. 2001). Pemilihan dilakukan dengan cara undian sehingga diperoleh
SMA Swasta Kartika Pematangsiantar kelas X yang terdiri dari dua kelas yaitu kelas X-2 sebagai kelas kontrol
dan kelas X-1 sebagai kelas eksperimen.
Penelitian
ini termasuk jenis penelitian quasi experimen.
Penelitian ini melibatkan dua kelas sampel yang diberi perlakuan yang
berbeda. Pada kelas eksperimen dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing sedangkan kelas kontrol dengan model pembelajaran konvensional. Desain penelitiannya berupa two group pretes-postes.
Instrumen
tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes keterampilan berpikir kritis
berbentuk uraian. Adapun indikator keterampilan berpikir kritis adalah
menganalisis, mensintesis, memecahkan masalah dan membuat kesimpulan (Angelo.1995).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi data yang disajikan
dalam penelitian ini terdiri dari nilai keterampilan berpikir kritis kelas
kontrol dan kelas eksperimen. Pada tahapan penelitian ini kedua kelas sampel,
yaitu kelas eksperimen diajarkan dengan pembelajaran inkuiri terbimbing dan
kelas kontrol diajarkan dengan pembelajaran konvensional diberikan tes keterampilan
berpikir kritis untuk melihat apakah kedua kelas kemampuan awal yang sama
dengan melakukan uji-t dengan syarat data terdistribusi normal dan homogen.
Kesamaan kemampuan awal dari kedua sampel perlu dilihat terlebih dahulu agar
saat kedua kelas diberi perlakuan dapat diperoleh perbedaan hasil belajar yang
signifikan dari kemampuan awal yang sama. Adapun data pretes keterampilan
berpikir kritis kelas kontrol dan kelas eksperimen dapat dilihat pada Gambar
1.
Gambar
1. Pretes Keterampilan Berpikir Kritis Kelas Kontrol
dan Eksperimen
Sebagai uji
prasyarat sebelum uji t dilakukan uji normalitas untuk mengetahui kedua kelas
berdistribusi secara normal dengan menggunakan SPSS 16.0. Uji normalitas hasil
belajar tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Uji Normalitas Pretes Keterampilan Berpikir Kritis
|
Kelas
|
Lhitung
|
Sig.
|
Ltabel
|
Ket.
|
|
Kontrol
|
0,142
|
0,051
|
0,174
|
Normal
|
|
Eksperimen
|
0,118
|
0,199
|
0,174
|
Normal
|
Kelas kontrol keterampilan berpikir kritis diperoleh nilai Lhitung
sebesar 0,142 dan
signifikansi sebesar 0,051 (Ltabel = 0,174, α = 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa Lhitung
< Ltabel dan signifikansi lebih besar dari 0,05, maka data pada
kelas kontrol adalah berdistribusi normal.
Uji kesamaan varians dan rata-rata nilai pretes dilakukan dengan test
of homogenety of variance menggunakan SPSS 16.0. Hasil pengujian dapat
ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2.
Uji Homogenitas Pretes Keterampilan
Berpikir Kritis
|
UjiHomogenitas
|
Fhitung
|
Ftabel
|
Sig
|
Keterangan
|
|
Berdasarkan
rerata
|
0,105
|
1.90
|
0,747
|
Homogen
|
Hasil pengujian memperlihatkan nilai Fhitung untuk
pretes keterampilan berpikir kritis 0,105 dengan signifikansi 0,747 (Ftabel=
1,90, α= 0,05). Berdasarkan hasil tersebut Fhitung
< F tabel dan signifikan hitung lebih besar dibandingkan α= 0,05
sehingga dapat disimpulkan data pretes keterampilan berpikir kritis kelas
kontrol dan kelas eksperimen memiliki varians yang sama atau homogen. Uji
normalitas dan uji homogenitas dari kedua kelas sampel dibutuhkan sebagai uji
prasyarat untuk melakukan uji kesamaan pretes keterampilan berpikir kritis (uji-t). Karena data kedua
kelas normal dan homogen maka dapat dilakukan uji kesamaan pretes dari kedua
kelas sampel.
Uji
kesamaan varians dan rata-rata nilai pretes dilakukan dengan uji t dengan
menggunakan SPSS 16.0. Hasil pengujian dapat ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Uji Kesamaan Pretes
Keterampilan Berpikir Kritis Kelas Eksperimendan Kelas Kontrol
|
Uji Kesamaan Pretes
|
thitung
|
ttabel
|
Sig
|
Keterangan
|
|
Uji
t
|
-0,807
|
1.67
|
0,422
|
Tidak
berbeda
|
Berdasarkan pengujian kesamaan
kemampuan awal dengan hasil thitung -0,807 dan signifikansi sebesar 0,422 (ttabel
= 1,67, α = 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa -ttabel ≤ thitung ≤ ttabel dan nilai signifikansi
lebih besar dibandingkan 0,05. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa
tidak ada perbedaan kemampuan awal dalam keterampilan berpikir kritis di kelas
eksperimen dengan kelas kontrol atau dengan kata lain kedua kelas memiliki
kemampuan awal yang sama.
Deskripsi data yang disajikan
dalam penelitian ini terdiri dari nilai keterampilan berpikir kritis kelas eksperimen diajarkan dengan
pembelajaran inkuiri terbimbing dan kelas kontrol diajarkan dengan pembelajaran
konvensional diberikan tes keterampilan berpikir kritis untuk melihat apakah terdapat pengaruh model
pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap keterampilan berpikir kritis siswa.
Adapun data postes keterampilan berpikir kritis
kelas kelas konvensional dan inkuiri terbimbing dapat ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar
2.Postes Keterampilan Berpikir Kritis Kelas konvensional
dan Inkuiri Terbimbing.
Analisis
perbedaan dilakukan dengan membandingkan
rata-rata keterampilan berpikir kritis kedua kelas. Analisis tiap item
indikator keterampilan berpikir kritis siswa yang diajarkan dengan model
konvensional dan inkuiri terbimbing dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Analisis Indikator
Keterampilan Berpikir Kritis
|
No
|
Item
Keterampilan Berpikir Kritis
|
Konvensional
|
Inkuiri
terbimbing
|
|
1
|
Menganalisis
|
6,79
|
7,82
|
|
2
|
Mensintesis
|
7,08
|
7,39
|
|
3
|
Memecahkan
masalah
|
7,18
|
7,18
|
|
4
|
Membuat
simpulan
|
7,32
|
7,13
|
Tabel 4 menunjukan analisis
perbedaan indikator keterampilan berpikir kritis. Siswa yang diajarkan dengan
model inkuiri terbimbing memperoleh rata-rata yang lebih baik pada indikator
menganalisis dan mensintesi dibanding siswa yang diajarkan dengan model konvensional.
Pengujian hipotesis
dilakukan dengan uji hipotesis satu pihak menggunakan uji t dengan bantuan software SPSS 21.0. Sebelum melakukan
uji t dilakukan uji prasyarat (uji normalitas dan homogenitas) terhadap data
postes keterampilan berpikir kritis. Uji normalitas
untuk mengetahui kedua kelas berdistribusi secara normal dengan menggunakan
SPSS 21.0. Uji normalitas hasil belajar dapat ditunjukkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Uji
Normalitas Postes Keterampilan Berpikir Kritis
|
Kelas
|
Lhitung
|
Sig.
|
Ltabel
|
Ket.
|
|
Konvensional
|
0,117
|
0,200
|
0,174
|
Normal
|
|
Inkuiri
Terbimbing
|
0,129
|
0,108
|
0,174
|
Normal
|
Kelas
konvensional diperoleh nilai Lhitung sebesar 0,117 dan signifikansi sebesar
0,200 (Ltabel = 0,174, α = 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa Lhitung<
Ltabel
dan signifikansi lebih besar dari 0,05, maka data pada kelas konvensional
adalah berdistribusi normal.
Uji kesamaan varians dan rata-rata nilai postes dilakukan dengan test
of homogenety of variance menggunakan SPSS 16.0. Hasil pengujian dapat
ditunjukkan padaTabel6.
Tabel 6. Uji
Homogenitas Postes Keterampilan Berpikir Kritis
|
Uji Homogenitas
|
Fhitung
|
Ftabel
|
Sig
|
Keterangan
|
|
Berdasarkan rerata
|
0.233
|
1.90
|
0.631
|
Homogen
|
Hasil pengujian memperlihatkan nilai Fhitung untuk
pretes keterampilan berpikir
kritis
0,233 dengan signifikansi 0,631 (Ftabel= 1,90 , α= 0,05).
Berdasarkan hasil tersebut Fhitung < F tabel dan signifikan hitung
lebih besar dibandingkan α= 0,05 sehingga dapat disimpulkan data postes keterampilan
berpikir kritis kelas konvensional dan kelas inkuiri terbimbing memiliki
varians yang sama atau homogen. Uji normalitas dan uji homogenitas dari kedua
kelas sampel dibutuhkan sebagai uji prasyarat untuk melakukan pengujian
hipotesis postes keterampilan berpikir kritis (uji t). Karena data kedua kelas
normal dan homogen maka dapat dilakukan uji t postes keterampilan berpikir
kritis dari kedua kelas sampel.
Pengujian hipotesis postes keterampilan berpikir kritis dilakukan dengan uji t sampel bebas menggunakan SPSS
16.0. Hasil pengujian dapat ditunjukkan pada Tabel 7.
Tabel 7. Uji
Hipotesis Postes Keterampilan Berpikir Kritis kelas Konvensional dan
Inkuiri Terbimbing.
|
Uji Kesamaan Pretes
|
thitung
|
ttabel
|
Sig
|
Keterangan
|
|
Uji
t
|
2,270
|
1.67
|
0,026
|
Signifikan
berbeda
|
Berdasarkan pengujian
hipotesis keterampilan berpikir
kritis
dengan hasil thitung 2,270 dan signifikansi sebesar 0,026 (ttabel
= 1,67 , α = 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa thitung> ttabel dan nilai signifikansi
lebih kecil dibandingkan 0,05. Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa ada
perbedaan postes keterampilan berpikir kritis di kelas inkuiri terbimbing
dengan kelas konvensional dengan hasil keterampilan berpikir kritis kelas
inkuiri terbimbing lebih baik dari kelas konvensional.
Berdasarkan
Tabel 7 maka dapat disimpulkan bahwa secara signifikan ada pengaruh model
pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran konvensional terhadap keterampilan
berpikir kritis siswa,
karena α = 0,05 > sig 0.026 dan thitung > ttabel (2,27
> 1,67).
Peningkatan
keterampilan berpikir kritis dilakukan perhitungan nilai peningkatan rata-rata
atau N-gain kelas inkuiri terbimbing dan konvensional. Berdasarkan perhitungan
nilai N-gain kelas inkuiri terbimbing diperoleh peningkatan sebesar 0,727 pada
kategori sedang, pada kelas konvensional diperoleh peningkatan sebesar 0,613
pada kategori sedang. Hasil perhitungan N-gain ditunjukan pada Tabel 8.
Tabel 8. Hasil Perhitungan N-gain
Keterampilan Berpikir Kritis
|
No
|
Model
|
N-gain Keterampilan
Berpikir Kritis
|
Keterangan
|
|
1
|
Inkuiri
Terbimbing
|
0,727
|
Tinggi
|
|
2
|
Konvensional
|
0,613
|
Sedang
|
Pembelajaran
dengan model inkuiri terbimbingsiswa diajak untuk aktif mencari pengetahuannya
sendiri. Siswa dilatih untuk menemukan fenomena-fenomena fisika dari proses
yang dirancang oleh guru. Peran guru sebagai motivator terlihat jelas saat guru
mengajak siswa untuk mengidentifikasi dan merumuskan masalah. Sebagai
vasilitator guru memberi ruang kepada siswa melakukan percobaan dan pengumpulan
data, guru memberi ruang kepada siswa melakukan tanya jawab dan memberi
kesempatan siswa memaparkan hasil diskusinya. Pada setiap percobaan siswa
memperoleh kecakapan dalam menggunakan alat ukur listrik. Serangkaian kegiatan
psikomotorik yang dilakukan siswa dengan semangat dan mampu membangun struktur
kognitif dalam memori jangka panjang.
Tugas utama guru adalah memilih
masalah yang perlu disampaikan kepada siswa untuk dipecahkan. Tugas-tugas
berikutnya dari guru adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam
pemecahan masalah. Dalam model pembelajaran inkuiri terbimbing, penyajian
masalah diawali dengan penjelasan suatu peristiwa yang penuh teka-teki sehingga
secara individu akan termotivasi menyelesaikan teka-teki tersebut. Dalam
kondisi demikian siswa merasa termotivasi dan guru akan membimbing siswa melakukan
suatu pencarian dan penyelidikan secara disiplin.
Model pembelajaran inkuiri
terbimbing dapat lebih membiasakan siswa untuk membuktikan suatu materi
pelajaran, membuktikan dengan melakukan penyelidikan sendiri oleh siswa yang
dibimbing oleh guru. Penyelidikan dapat dilakukan oleh siswa baik didalam
ruangan seperti dilaboratorium maupun dilapangan terbuka kemudian hasil penyelidikan
dianalisis oleh para siswa menggunakan buku-buku referensi yang mendukung tentang
materi yang diselidiki. Dengan menggunakan model inkuiri terbimbing ini
pengembangan ranah kognitif siswa lebih terarah dan dalam kehidupan sehari-hari
dapat diaplikasikan secara motorik. Keterampilan yang diperoleh melalui
serangkaian proses sains membuat siswa aktif membangun pengetahuannya.
Berbeda halnya dengan model konvensional yang mengedepankan proses latihan soal kepada
siswa. Pengetahuan diajarkan dengan dengan cara melatih siswa, siswa dituntut menghafal pengetahuan yang
diberikan guru. Serangkaian kegiatan dilakukan secara instruksional tanpa
memberi kesempatan siswa mencari sendiri pengetahuanya. Serangkaian kegiatan
instruksional ini mengkondisikan pada situasi kelas yang diam, tanpa aktivitas
siswa, tanpa kegiatan tanya jawab, siswa hanya memperhatikan penjelasan guru.
Kegiatan siswa yang pasif tersebut berdampak kepada lemahnya penyerapan
pengetahuan oleh siswa. Pengetahuan yang diperoleh tidak bertahan lama dalam
memori siswa, sehingga keterampilan berpikir kritis siswa pun menjadi rendah.
Keterampilan
berpikir kritis
siswa yang diajarkan dengan model inkuiri terbimbing menunjukan hasil yang lebih
baik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Siswa mampu menjawab tes
hasil belajar pada semua indikator keterampilan berpikir kritis dengan baik. Jika dibandingkan
dengan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran
Konvensional yang memperoleh hasil belajar yang lebih rendah. Maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis siswa antara siswa yang diajarkan
dengan model inkuiri terbimbingdan model konvensional. Dimana keterampilan berpikir kritis siswa yang diajarkan dengan
mode inkuiri terbimbing lebih baik dari keterampilan berpikir kritis
siswa yang diajarkan dengan model konvensional.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, pengolahan dan pembahasan yang
telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri
terbimbing yang diterapkan pada kelas eksperimen berpengaruh secara signifikan
dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dibandingkan dengan
pembelajaran konvensional yang diterapkan pada kelas kontrol.
DAFTAR PUSTAKA
Angelo. A. T. (1995). Beginning The Dialogue Thoughts on Promoting
Critical Thingking. Boston College.
Costa, A.L. (1985). Goal for Critical Thingking Curriculum. In Costa A.L. (ed).Developing
Minds A. Resource Book for Teaching Thingking. Alexandria: ASCD
Efendi. (2010). Mengapa Prestasi Indonesia Redup di Olimpiade Fisika. Kompas:
Jakarta
Ennis, (1996). Critical Thinking. New
Jersey: Prentice Hall, Uper Saddle River.
Sugiharto. (2001). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Trowbrige & Bybee. (1990). Becoming a Secondary School Science Teacher.
Ohio: Merrill Publishing Company
.
Langganan:
Komentar (Atom)